Opini : Pendidikan Akhlak Sangat Perlu di Sekolah

Opini : Pendidikan Akhlak Sangat Perlu di Sekolah

BERBAGI
Foto : Bayu, S.Pd. Mahasiswa S2 Administrasi Pendidikan, FKIP Universitas Tanjungpura/R

Thetanjungpuratimes.com – Kata pendidikan yang umum kita gunakan sekarang dari Bahasa Arab yaitu tarbiyah, dengan kata kerja rabba, yang artinya pengajaran. Kata pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah ta’lim, dengan kata kerjanya ’allama, yang berarti pendidikan. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya tarbiyah wa ta’lim.

Kata rabba yang berarti mendidik sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam bentuk kata benda, kata rabba ini digunakan juga untuk Tuhan, karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara bahkan mencipta. Hakekat pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja, sistematis, penuh tanggungjawab dan dilakukan oleh orang dewasa kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohani untuk mencapai tingkat dewasa.

Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa tujuan dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, melainkan mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

Imam al-Ghozali berpendapat bahwa tujuan dari pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan pangkat dan bermegah-megahan. Al-Ghozali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan, pertama, mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah SWT dan kedua, mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.

Dengan bekal ilmu akhlak, orang dapat mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Dengan maksud dapat menempatkan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya. Orang  yang berakhlak  dapat memperoleh irsyad (dapat membedakan antara amal yang baik dan amal yang buruk), taufiq (perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW), dan dengan akal yang sehat, juga dapat memperoleh hidayah (seseorang akan gemar melakukan yang baik dan terpuji serta menghindari yang buruk dan tercela, sehingga dapat bahagia di dunia dan di akhirat, mendapat ridha Allah SWT serta disenangi oleh sesama makhluk).

Dengan memahami ilmu akhlak sebenarnya bukanlah jaminan bahwa setiap yang mempelajarinya secara otomatis akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan bersih dari sifat-sifat tercela. Akan tetapi ilmu akhlak akan membuka mata hati untuk mengetahui perbuatan tersebut dikatakan baik atau buruk. Selain itu akan mendorong kehendak agar berbuat baik, yang tidak selalu berhasil kalau tidak ditaati oleh kesucian hati.

pendidikan Akhlak adalah perpaduan antara pengertian Pendidikan dan Akhlak. Jadi yang dimaksud dengan Pendidikan Akhlak adalah bimbingan, asuhan dan pertolongan dari orang dewasa untuk membawa anak didik ke tingkat kedewasaan yang mampu membiasakan diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan menghindari sifat-sifat yang tercela.

Kedewasaan di sini meliputi aspek kesempurnaan jasmani dan kesempurnaan rohani yang patut dimiliki oleh setiap manusia, sehingga ia dapat membedakan mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.

Oleh sebab itu kedua perbuatan tersebut memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sehingga dapat dijadikan sebagai ukuran tinggi rendahnya iman. Iman yang sempurna akan melahirkan akhlak. Dengan kata lain bahwa keindahan akhlak adalah manifestasi dari kesempurnaan iman. Sebaliknya jika imannya belum sempurna, maka indikasi yang muncul adalah perbuatan-perbuatan yang tercela.

Kehidupan berakhlak tidak dapat dipisahkan dengan keyakinan beragama. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan agama yang telah dibawa oleh rasul sebelumnya. Maka jelas bahwa inti ajaran Islam adalah memberikan bimbingan mental dan jiwa manusia, sebab dalam bidang ini terletak hakekat kemanusiaannya dan hal itulah yang menentukan bentuk hidup manusia.

Mendidik akhlak anak merupakan pekerjaan yang bernilai tinggi dan paling penting, karena anak merupakan amanah Allah bagi orang tuanya di mana hatinya bersih suci bagaikan mutiara yang cemerlang dan jiwanya sederhana yang kosong dari segala lukisan dan ukiran. Anak-anak itu akan menerima segala sesuatu yang diukirkan padanya, serta condong pada sesuatu yang mengotorinya. Jika ia dibiasakan dengan kebiasan baik maka ia akan tumbuh menjadi baik, dan ia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat, dan begitu pula sebaliknya.

Akhlak yang baik tidak hanya diperoleh melalui metode pendidikan langsung, tidak langsung atau mengambil manfaat dan kecenderungan, akan tetapi juga bisa diperoleh melalui teladan, yaitu meniru orang-orang yang dekat dengannya. Metode ini akan memberikan kesan atau pengaruh pada prilaku manusia, di samping itu juga sangat efektif untuk pengajaran akhlak. Maka seyogyanya sebagai seorang guru mempunyai etika dan prilaku yang luhur serta dapat menjadi panutan bagi murid-muridnya dalam segala hal.

(R/Muh)

Oleh : Bayu, S.Pd

Mahasiswa S2 Administrasi Pendidikan, FKIP Universitas Tanjungpura

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY