Polda Kalbar Berhasil Ungkap Judi Online

Polda Kalbar Berhasil Ungkap Judi Online

BERBAGI
Foto: Ilustrasi judi online turn poker/pokeronlineandroid.net

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Ditreskrimsus Polda Kalbar berhasil mengungkap kasus permainan judi online turn poker, dengan tersangka dengan inisial SR (45), Perempuan, warga Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, selaku pemilik warnet, dan tersangka yang kedua berinisial SI (28) laki-laki, warga Kelurahan Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, selaku operator warnet. Kedua tersangka ditangkap di warnet Indotara yang beralamat di Jalan Tanjungpura nomor 3354, kecamatan Pontianak Selatan.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo, menyampaikan, modus operandi para tersangka, sejak tahun 2013, SR telah membuka warnet dan melakukan transaksi jual beli chip poker dari zyga poker.

Keuntungan yang besar membuat tersangka asyik dengan bisnis judi onlinenya, selang waktu setahun berjalan, aplikasi zyga poker ditutup, hal ini membuat bingung tersangka untuk melanjutkan bisnis onlinenya.

“Tak lama kemudian, sekira akhir tahun 2014, tersangka menerima pesan chatting dari aplikasi Turn Poker yang menawarkan untuk menjadi bandar penjualan chip Turn Poker. Karena sebelumnya tersangka berhasil berbisnis judi online ini, akhirnya tanpa pikir panjang tersangka langsung tertarik dan mencoba untuk membeli chip poker tersebut,” ujarnya, Jumat (9/2).

Kegiatan bisnis judi online yang dilakukan tersangka SR, yakni chip dari Turn Poker laris manis dijual oleh tersangka, dengan keuntungan yang besar perbulannya. Tersangka SR mengakui setiap pembelian chip poker tersebut sejumlahRp 4.700.000, dengan stok sekitar 5 bilion, jumlah tersebut habis terjual dalam waktu kurang lebih 3 hari. Pembeli chip tersebut dari berbagai kalangan, mahasiswa, pelajar, pegawai bahkan pengangguran.

“Barang bukti yang berhasil diamankan 4 unit CPU, 4 unit LCD monitor, 3 unit handphone, uang tunai sejumlah 2.284.600 rupiah dan barang bukti lainnya,” katanya.

Kedua tersangka dijerat dengan pasal 45 ayat 2 juncto pasal 27 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun, dan denda paling banyak satu milyar rupiah.

(Sukardi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR