Ilmuwan: Tak Perlu Jauh-jauh, Alien Kemungkinan di Dekat Bumi

Ilmuwan: Tak Perlu Jauh-jauh, Alien Kemungkinan di Dekat Bumi

BERBAGI
Foto: Ilustrasi Enceladus, salah satu bulan Planet Saturnus. [Shutterstock]

Thetanjungpuratimes.com – Kita mungkin tak perlu ke ujung semesta untuk menemukan alien, karena di tata surya kita sendiri ada satu tempat yang diduga kuat menjadi tempat persembunyian mahluk luar angkasa: Enceladus – salah satu bulan Saturnus, planet bercincin yang masyur itu.

Saturnus sendiri adalah planet keenam dari Matahari. Ia dan Bumi hanya dipisahkan oleh Mars dan Yupiter.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, Selasa (27/2), para ilmuwan dari Jerman dan Austria menunjukkan bahwa Enceladus, yang diselimuti es, memiliki kondisi lingkungan ideal untuk berkembangnya mikroorganisme penghasil metana (methanogenic).

Di Bumi sendiri ada mahluk bernama archaeans, yang juga methanogenic. Mereka biasanya hidup di lingkungan yang ekstrem, mirip seperti di Enceladus.

Salah satunya adalah spesies archaean Methanothermococcus okinawensis. Dalam penelitian di laboratorium, spesies ini berhasil bertahan hidup di lingkungan yang sangat mirip dengan di Enceladus.

Di Bumi, Methanothermococcus okinawensis bisa ditemukan di lingkungan yang sangat panas, dekat dengan lubang-lubang hidrotermal di lautan dalam. Organisme ini bisa mengubah karbon dioksida dan hidrogen menjadi metana.

Jejak-jejak metana sebelumnya telah ditemukan dalam uap-uap air yang menyusup keluar dari retakan-retakan es di permukaan Enceladus.

“Kami menyimpulkan bahwa sebagian dari CH4 (metana) yang terdeteksi di Enceladus, diduga kuat, diproduksi oleh metanogen,” tulis para peneliti.

Dari riset itu, mereka juga meyakini bahwa Enceladus memiliki cukup banyak kandungan hidrogen untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi mahluk methanogenic.

Meski demikian, salah satu peneliti, Simon Rittmann, menekankan bahwa studinya itu dilakukan hanya di laboratorium. Ia menegaskan bahwa studi itu bukan berarti sudah ada bukti adanya kehidupan di luar Bumi.

“Studi kami hanya soal mikroogranisme. Saya menghindari semua spekulasi soal bentuk kehidupan yang lebih cerdas,” tutup peneliti dari Universitas Wina itu.

(Suara.com/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR