Salah Satu Indikator Kota Terbaik Adalah Kota Yang Memperhatikan Kaum Disabilitas

Salah Satu Indikator Kota Terbaik Adalah Kota Yang Memperhatikan Kaum Disabilitas

BERBAGI
Foto : Jurnalis bersama Sikdam Hasim/ Istimewa

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – “Kota terbaik adalah kota yang memperhatikan kaum disabilitas, hal itulah yang dilihat dunia dan Indonesia masih belum melihat itu”.

Kalimat tersebut diungkapkan oleh Sikdam Hasim, seorang tunanetra atau buta, ketika ia menjadi salah satu pembicara di seminar Hari Air Sedunia yang ke-26 yang dilaksanakan Fakultas Teknik Untan, Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) di gedung rektorat Universitas Tanjungpura lantai tiga, pada Kamis (22/3/2018).

Sikdam Hasim adalah seorang penyandang disabilitas, Ia menjadi seorang tunanetra sejak berumur 21 tahun, saat ia mengalami kecelakaan saat menumpangi mobil milik temannya.

Sikdam telah menjadi pembicara baik di forum nasional maupun internasional, menyuarakan hak-hak kaum disabilitas di perkotaan yang masih sedikit memperhatikan kaum disabilitas dalam pembangunan infrastruktur.

“Kebanyakan kota-kota yang maju bersaing untuk pembangunan bagi masyarakat normal, padahal saya  menyakini apabila kota yang membangun infrasruktur dengan memperhatikan kaum disabilitas maka kota tersebut akan menjadi kota yang indah serta tangguh,” ucap Sikdam.

Namun hal itu tidak dilakukan oleh kebanyakan kota-kota di dunia termasuk di Indonesia. Kebanyakan masyarakat di kota cenderung meremehkan dan menyepelekan kaum disabilitas.

“Ini merupakan pemikiran yang keliru, banyak orang membangun kotanya supaya lebih maju dan dilirik oleh dunia tanpa memperhatikan kebutuhan kaum disabilitas,” tuturnya.

Sikdam mengatakan bahwa hasil forum kota sedunia di Kuala Lumpur, Malaysia menyebutkan bahwa salah satu indikator kota itu dikatakan baik atau tangguh adalah kota yang pembangunan infrastrukturnya memperhatikan kaum disabilitas.

Ia mencontohkan beberapa negara yang kotanya memperdulikan kaum disabilitas menjadi kota yang menarik, indah dan tangguh.

“Negara Inggris dengan kotanya London memiliki sirine dirambu-rambu lalu lintas untuk kaum tuna netra atau buta agar bisa menyebrangi jalan raya, ada pula negara Korea Selatan yang dengan kotanya Seoul dahulu menyediakan fasilitas-fasilitas yang memudahkan para disabilitas untuk melihat danau dan jurang lebih dekat,”ujarnya.

Sikdam yang merupakan pendiri sekaligus menjadi Ketua Disability Youth Center Indonesia ini berharap kota-kota di Indonesia dapat memperhatikan orang seperti dirinya dalam membangun infrastruktur.

“Harapan terakhir saya adalah bapak dan ibu disini semakin sayang. Semakin peduli, semakin empati terhadap jutaan kaum disabilitas di Indonesia karena tanpa dukungan dari bapak dan ibu kita tidak bisa apa-apa,” ucap sikdam.

Terdapat sekitar 25 juta orang yang hidup dengan disabilitas di Indonesia.

(Agus)

TIDAK ADA KOMENTAR