Pupuk Feces Ayam Bisa Menjadi Inovasi Desa

Pupuk Feces Ayam Bisa Menjadi Inovasi Desa

BERBAGI
Foto: Untan Laksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Kabupaten Mempawah/ Sukardi

Mempawah, thetanjungpuratimes.com– Bertempat di Aula Kantor Kelurahan Anjongan Melancar, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, Dr. Drh Zakiatulyaqin, M.Si dan Duta Setiawan, S.Pt M.Si Dosen Peternakan Universitas Tanjungpura (Untan), melakukan penyuluhan kegiatan pengabdian masyarakat terkait dengan pemanfaatan feces Ayam untuk pupuk.

Kelangkaan dan mahalnya pupuk anorganik menjadi inisisasi bagi kedua dosen Untan ini. Permasalahan ini merupakan permasalahan mendasar bagi petani dan menyangkut hasil panen mereka.

“Kelangkaan pupuk anorganik baik yang bersubsidi maupun tidak bersubsidi sering terjadi di kecamatan Anjongan Mempawah,  membuat para petani benar-benar terjepit,” tutur Maskhan petani di Kelurahan Anjongan Melancar.

Akibatnya sejumlah ladang masyarakat dibiarkan terlantar, dikhawatirkan jika ditanami padi lagi tidak akan tumbuh subur karena kekurangan nutrisi. Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan bisa menyediakan alternatif pupuk organik  bagi petani. Jika tidak hasil panen petani tahun ini dipastikan tidak maksimal.

“Menindaklanjuti permasalahan itu, kami melakukan observasi terkait potensi bahan pupuk yang ada di Kelurahan Anjongan Melancar. Adanya peternakan ayam potong yang ada di Kelurahan Anjongan Melancar memberikan potensi yang sangat besar untuk pembuatan pupuk dari feces ayam. Jika masyarakat mau memanfaatkan kotoran ayam atau feces ini secara maksimal maka akan mampu menghasilkan pupuk kandang yang mampu mengatasi kelangkaan pupuk di sana,” tutur Duta Setiawan, Rabu (11/4/2018).

“Rabok itu adalah pupuk yang berasal dari tumpukan kotoran hewan, seperti kotoran Ayam, Kambing dan Sapi. Inilah saya kira yang menjadi kelemahan dari pupuk organik, khususnya di pedesaan,”lanjutnya.

Dirinya menjelaskan, pertama, tidak semua petani memiliki hewan ternak. Meskipun ada, biasanya hanya satu atau dua ekor. Jadi, tidak semua petani punya sumber pupuk organik untuk pertaniannya. Kedua, kebanyakan petani tidak punya ruang untuk menyimpan pupuk organik ini. Ketiga, kurangnya informasi tentang pengolahan pupuk organik.

“Kotoran ternak Ayam, Kambing, maupun Sapi yang ditumpuk begitu saja, belum sepenuhnya bisa digunakan sebagai pupuk. Karena setiap hari ada kotoran baru yang muncul. Kemudian ditumpuk di bagian atas. Ketika saat pemupukan tiba, hanya pupuk bagian bawah yang sudah jadi kompos. Sedangkan bagian yang atas belum. Ini mungkin yang menjadi sebab kenapa pupuk organik kinerjanya tidak secepat pupuk anorganik. Karena pupuk diberikan masih dalam kondisi mentah dan belum siap untuk diserap oleh tanaman,” jelasnya.

Foto: Mahasiswa dan Mahasiswi Untan Laksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Kabupaten Mempawah/ Sukardi

Duta menjelaskan, proses pembuatan pupuk kandang tidaklah sulit. Diperlukan beberapa bahan tambahan seperti dedak padi, EM4, molases atau air gula, arang sekam padi yang berwarna hitam.

Untuk membuat pupuk kompos dari kotoran ayam adalah sebagai berikut, pertama, kotoran Ayam dikumpulkan dalam suatu tempat, bisa silo atau yang lainnya. Tempat pengumpulan kotoran Ayam ini harus bisa ditutup dengan rapat. Tujuannya supaya terjadi proses fermentasi kedap udara atau anaerob. Kedua, selanjutnya kotoran Ayam diperam selama 90 hari secara normal. Apabila ingin lebih cepat bisa dengan menambahkan bakteri fermentator EM4. Penambahan EM4 bisa mempercepat proses pemeraman sampai 7 sampai 14 hari saja. Selama pemeranan akan terjadi pembusukan dan penguraian unsur-unsur dalam kotoran ayam sehingga mengasilkan unsur-unsur hara yang langsung bisa diserap oleh tanaman. Ketiga, dosis penggunaan EM4 bisa dilihat pada kemasannya. Campurkan larutan EM4 dan molasses atau gula dengan air, dengan perbandingan 1 : 1 : 100.  Kemudian didiamkan selama 2 hari agar terjadi proses fermentasi. Larutan tersebut dapat disemprotkan pada limbah ternak dengan kapasitas limbah 1 ton.

“Menurut hasil dari penelitian peneliti Untan, pupuk kandang yang difermentasi dengan EM4 ini menunjukkan hasil yang lebih baik daripada pupuk kandang yang diperam secara normal.  Pupuk kandang jika diseriuskan bahkan dicetak dalam berbagai bentuk seperti bintang, sabit, kubus maupun seperti pellet maka akan menjadi inovasi Desa Anjongan Melancar yang bisa meningkatkan ekonomi desa,” tutup Duta.

(Sukardi)

TIDAK ADA KOMENTAR