Mahasiswa Peternakan Untan Kampanyekan Pentingnya Konsumsi Protein Hewani

Mahasiswa Peternakan Untan Kampanyekan Pentingnya Konsumsi Protein Hewani

BERBAGI

Pontianak, thetanjungpuratimes.com- Kekurangan konsumsi protein hewani seperti daging, susu, telur, mengakibatkan efek buruk pada anak bangsa yaitu busung lapar dan Stunting. Stunting mengakibatkan tumbuh pendek, perut buncit dan lola (loading lama) dalam berpikir.

Permasalahan stunting atau kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak mencukupi khususnya pada anak berusia di bawah 5 tahun, hingga kini masih menjadi salah satu masalah terbesar di Indonesia.

Oleh sebab itu, Mahasiswa Peternakan Universitas Tanjungpura (Untan) yang tergabung dalam Himpunanan Mahasiswa Peternakan (Himasiter) melakukan gerakan amal Kampanye Gizi Protein Hewani dengan kegiatan budayakan makan daging, susu dan telur secara cukup untuk mencerdaskan kehidupan anak anak bangsa.

“Silahkan hadir di Car Free Day di Halaman depan parkiran masjid Mujahidin Kalbar kami akan berikan penyuluhan dan bagikan susu dan telur kepada masyarakat secara gratis pada tanggal Minggu, 22 April 2018 pukul 07.00 sampai selesai,” ujar Ketua Himasiter Untan, Erwin, Minggu (22/4/2018).

Dirinya menyebutkan, kegiatan tersebut merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PAKAN dan terselenggara dengan berbagai pihak seperti ISPI yakni Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Cabang Kalbar, PPNSI Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia dan Pengusaha Peternakan Unggas Bapak Mulya, S.Pt,” tambahnya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) mengenai indeks Tinggi Badan per Umur (TB/U) 2013, setidaknya terdapat 8.8 juta anak atau sekitar 37,2% anak Indonesia di bawah 5 tahun mengalami stunting. Jumlah ini, menutrut data Unicef, lebih tinggi dari tingkat prevalensi dunia, yaitu 25% pada 2013.

Sementara itu, Akademisi Peternakan Untan, Duta Setiawan, mengatakan Stunting terjadi karena terjadinya malnutrisi atau gizi kurang, terutama pada saat 1000 hari pertama anak, mulai dari janin hingga umur 2 tahun.

Stunting tidak hanya berdampak dalam jangka pendek yang berupa hambatan perkembangan fisik, penurunan fungsi kekebalan, penurunan fungsi kognitif, dan gangguan sistem pembakaran. Stunting juga berimbas pada jangka panjang seorang anak pada masa depannya yang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis. Ini harus dilakukan edukasi, kampanye Gizi secara masif kepada ibu-ibu dan balita khususnya untuk menghindari lost generation di Indonesia,” ujar Duta.

(Sukardi)

TIDAK ADA KOMENTAR