Kader Patri Kal-Bar : Poros Ketiga Dan Ambisi Besar Prabowo di Pil-Pres...

Kader Patri Kal-Bar : Poros Ketiga Dan Ambisi Besar Prabowo di Pil-Pres 2019

BERBAGI
Foto: Habib Fuadzil S.Ip

Thetanjungpuratimes.com– Dinamika politik menyertai jalannya Demokrasi di Indonesia yang sudah mulai matang sejak lengsernya rezim Soeharto yang banyak orang menilai sebagai rezim anti Kebebasan dan terkesan otoriter.

Dewasa ini politik semakin dinamis tak melulu membicarakan sekedar BerJuAng istilah warung kopinya (Beras, Baju dan Uang). Masyarakat Pemilih yang bersifat sosiologis,rasional terlebih Ideologis telah dapat menerapkan kondisi dan etika politik yang sesungguhnya, sehingga penilaian figure akan lebih mendalam dan selektif.

Rangkain dan tahapan pesta Demokrasi telah berjalan dimulai dari Pilkada Serentak 2018 dilanjutkan Pileg bebarengan dengan Pilpres 2019 yang sebagian pengamat politik menilai, Pemilihan presiden merupakan puncak dari itu semua dimana kekuatan dan instrumen politik benar-benar akan difungsikan secara maksimal, branding dan framing akan terus dimainkan oleh Kalangan elit di tingkat pusat untuk mendongkrak popularitas kandidat dan figure, terlepas dari itu bukan berarti Pilkada serentak tidak penting tetapi berdasarkan Klasifikasi dan manajemen resiko pilkada serentak menjadi pemetaan awal bagi partai politik, sehingga menjadi evaluasi menyongsong Pilpres 2019.

Politik senantiasa dinamis tak seperti Patung Batu yang tak bergerak tanpa ada yang menggerakkan dengan catatan tertentu.

Asyik memang membaca yang belum terjadi, apalagi fenomena Dukun politik bahkan sekarang tak hanya Konvensional,yang online pun ada, aku lah peramal sejati katanya Hehehe.

Lupakan guyonan itu sejenak. Fokus dengan pemilihan Presiden 2019. Flash back 2014 lalu hanya ada dua calon presiden yaitu prabowo dan Jokowi seolah semua terbelah walaupun kenyataannya tidak demikian, Medialah yang punya andil besar untuk mempengaruhi psikologi pemilih, misalnya Konglomerasi TV MT mendukung Jokowi sementara TV O mendukung prabowo dan itu akan tetap terjadi di 2019 walaupun dengan bentuk berbeda.

Bicara kemungkinan akan muncul POROS Ke 3 di pilpres 2019 terus mengelinding di karenakan muncul banyak tokoh dan figure baru yang memperoleh presentase tinggi menurut beberapa lembaga survey yang kredible, sehingga muncul pertanyaan apakah hanya ada 2 calon presiden dengan elektabilitas tertinggi, belakangan muncul nama Purn. Jend TNIi Gatot Nurmantyo dengan presentase di bawah Jokowi dan Prabowo disusul Agus Yudhoyono dan Anies baswedan serta masih banyk tokoh lain, Mari kita KUPAS dan KULITI masing2 figure ini.

Gatot Nurmantyo merupakan seorang tokoh Militer Indonesia dari matra Angkatan Darat yang menapaki karir dari pangkat Letnan dua, kedekatakan dengan Jend Purn Edi Sudrajat membawa karir Gatot melesat cepat hingga menduduki jabatan sebagai Kasad dan pada tahun 2015 diangkat menjadi Panglima TNI oleh presiden Jokowi dan jabatan tersebut dimanfaatkan dengan baik berdasarkan survey dan audit lembaga keuangan Institusi TNI menjadi yang terbaik dan bersih dari korupsi di banding dengan instansi lain, Beliau sangat dekat dengan Ulama dan kyai sehingga saat terjadi demo besar menuntut Ahok, Gatot sering di kait-kait kan dengan klompok pendemo yang dinamai Alumni 212. Menurut saya Gatot merupakan figure terkuat untuk terbentunya poros ke tiga dibanding sosok lain dengan hasil survey dan elektabilitas.

Kemudian Agus Yudhoyono yang merupakan putra sulung dari mantan presiden SBY, merupakan seorang mantan Militer dengan pangkat terakhir Mayor, mundur dikarenakan mendaftarkan diri sebagai Calon gubernur Dki jakarta Tahun lalu walaupun kalah. Agus terus melakukan Manuver politik dengan menjadi pembicara pada seminar2 yang di selenggarakan oleh perguruan tinggi dan tak boleh ketinggalan safari politik kepada senior terus dilakukan untuk meningkatkan Elektabilitas dengan target di 2019, Agus juga dinilai layak menjadi calon presiden dari poros Ke tiga dengan nama besar orang tuanya yang merupakan Ketua umum partai demokrat, Kalangan muda dan pemilih pemula menjadi pasar utama untuk AHY.

Kemudian tokoh terakhir ialah Gubernu DKI jakarta Anies Rasied Baswedan, menapaki karir sebagai seorang Akademisi dengan daya pikir diatas rata-rata sehingga tak heran hingga menjadi rektor Universitas Paramadina tahun 2014 Anies baswedan menjadi konseptor pemenangan Joko Widodo kemudian diangkat menjadi Menteri pendidikan hingga diberhentikan dengan alasan yang tak penulis ketahui, Tahun 2017 Anies Baswedan maju sebagai calon gubernur DKI di usung oleh partai Gerindra dan PKS dan kemudian terpilih mengalahkan 2 calon lain, itulah ulasan tentang analisis terbentuknya poros ketiga di Pemilihan presiden 2019 terlepas berlakunya syarat Presidential Treshold.

Bicara Prabowo Subianto yang menurut saya merupakan Negarawan sejati dengan plus minusnya, ambisi Prabowo dan Gerindra di Pilpres 2019 saya nilai sangat tinggi dengan manuver politik yang mulai gencar dimainkannya melalui action dan kritikan terhadap lawan dan rival politik terkuat saat ini tak lain dan tak bukan Yaitu Presiden Jokowi dan pemerintahannya walaupun pelan2 koalisi Merah putih dan Indonesia hebat seakan lenyap dengan bergabungnya sebagian partai KMP ke pemerintah di awal masa kepemimpinanya, sehingga saat ini Tinggal Partai Gerindra dan PKS Yang benar benar di luar pemerintahan dan rajin mengkritik kebijakan yang tidak pro rakyat, hingga dalam suatu acara talk show Mardani ali sera mengatakan bahwa Gerindra Dan PKS ialah SEKUTU, sehingga tak salah menurut saya frasa frasa seperti Sekutu keluar dari elit politik karna memang di analogikan sebagai perang dalam kompetisi politik.

Kedepan 2019 akan sangat menarik karna mau tidak mau Kalau prabowo ingin mencalonkan diri sebagai Capres harus lah berkoalisi, Nama PKS lah yang paling dekat. Namun seakan menjadi buah simalakama melihat banyak elit PKS yang mentereng prestasinya di tingkat pusat, apakah kader PKS di bawah merelakan partainya hanya menjadi pendukung prabowo demi memuluskan ambisinya untuk nyapres 2019, bisa minimal menjadi calon wakil presiden mendampingi prabowo krna nama nama beken seperti, ahmad heryawan, tifatul sembiring, Anis matta bahkan fahri hamzah Cukup layak untuk mnjadi cawapres prabowo.

Tak ada satupun orang yang bisa memaksa dan menghentikan siapapun dalam konteks berdemokrasi ini, dan apabila dilihat dari kondisi secara negarawan prabowo tidak jadi mencalonkan diri sebagai capres dan mengajukan tokoh lain semisal Gatot nurmantyo ataupun nama lain, dan perlu di ingat ini hanya sekedar analisis apapun bisa terjadi , satu sisi incumbent sangat lah kuat dan mulai mengakar program kerjanya, melihat sejarah sejak SBY 2014 terpilih kemudian 2009 SBY terpilih lagi 2 periode, daya pikir rasional sekali lagi di butuhkan dalam membaca tulisan ini, bukanya saya seorang Projo dan Pendukung prabowo tetapi membaca arah politik menjadikan politik semakin menarik untuk di kupas.

JOKOWI DAN PRABOWO atau NAMA LAIN dan bahkan lebih banyak Kemungkinan.

Oleh: Habib Fuadzil S.Ip

 

(R/adi)

TIDAK ADA KOMENTAR