Meraba Strategi Juru Taktik di Duel Hidup Mati Madrid – Liverpool

Meraba Strategi Juru Taktik di Duel Hidup Mati Madrid – Liverpool

BERBAGI
Foto: Kolase foto pelatih Real Madrid Zinedine Zidane dan manajer Liverpool Jurgen Klopp [AFP]

Thetanjungpuratimes.com – Laga puncak kompetisi kasta tertinggi Eropa, Liga Champions, musim 2017/18 akan tersaji di NSC Olimpiyskiy, Kiev, Ukraina, Minggu (27/5/2018) dini hari WIB. Di final, juara bertahan Real Madrid akan ditantang salah satu penghuni papan atas Liga Inggris, Liverpool.

Tampil di final kompetisi selevel Liga Champions, kedua tim dipastikan bakal tampil all out dengan motivasi selangit. Bagi Madrid, rekor baru ada di depan mata. Berhasil merengkuh gelar juara di dua gelaran terakhir, kemenangan di final musim ini akan semakin mengukuhkan posisi Los Blancos sebagai raja Eropa dengan gelar ke-13.

Sementara untuk sang entrenador Zinedine Zidane, kemenangan di final kali ini akan menjadikannya sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah kompetisi kasta tertinggi benua biru dengan meraih tiga trofi Liga Champions secara beruntun.

Bagi Liverpool, final Liga Champions ini adalah peluang emas yang tidak boleh dilepaskan. Mengingat sudah satu dekade sejak terakhir kali tim berjuluk The Reds tampil di partai puncak kompetisi ini.

Apalagi predikat underdog sempat disematkan pada tim besutan Jurgen Klopp ketika pertama menjejakkan kaki di awal kompetisi. Predikat yang dipatahkan Mohamed Salah dan kawan-kawan dengan permainan super impresif.

Permainan gemilang yang mampu meruntuhkan pertahanan tim unggulan macam Manchester City di perempat final, dan pastinya menyisakan teror di kubu Real Madrid saat ini.

Real Madrid (instagram)

Sekelumit strategi 4-4-2 versus 4-3-3, pressing dan kecepatan jadi kunci utama

“Mereka memenangi Liga Champions dua kali di dua musim terakhir. Mereka kembali ke final lagi tahun ini. (Bayern) Munich mengira mereka tim yang lebih baik di dua (leg) pertandingan, tetapi siapa yang lebih baik di akhir pertandingan?” ujar Klopp.

“Real Madrid membutuhkan empat peluang untuk mencetak dua gol. Bayern membutuhkan delapan untuk mencetak satu gol. Mereka berpengalaman dari ujung kepala sampai ujung kaki. Saya kira mereka tak punya kelemahan.”

Seperti diketahui, banyak pengamat menilai jika Madrid beruntung ketika menyingkirkan jawara Serie A Juventus di perempat final dan menumbangkan raksasa Bundesliga Bayern Munich di semifinal (dua-duanya dengan agregat tipis 4-3). Namun bagi Klopp, penilaian tersebut subjektif. Karena pernyataan di atas menggambarkan kekuatan Real Madrid saat ini di mata manajer asal Jerman.

Berbekal materi pemain merata dan kepiawaian Zinedine Zidane selaku juru taktik, Klopp sangat menyadari jika Madrid tidak akan mudah ditaklukkan. Namun bukan berarti manajer asal Jerman itu tidak punya peluang untuk merebut gelar dari Los Blancos.

Melirik pada permainan kedua tim di semifinal, Klopp yang menggunakan formasi 4-3-3 saat menghadapi AS Roma, sepertinya akan memainkan skema “menunggu momen tepat” untuk melancarkan serangan kilat.

Menunggu bukan berarti bertahan atau parkir bus. Lewat pressing tinggi, Liverpool pastinya juga akan berjuang memenangkan lini tengah demi mendapatkan bola untuk dipasok kepada trio Roberto Firmino, Sadio Mane dan Mohamed Salah yang bersiap merangsek pertahanan el Real.

Para pemain Liverpool merayakan gol Mohamed Salah (tengah). Filippo MONTEFORTE / AFP

Jika ini yang terjadi, maka sudah pasti kecepatan tiga pemain terdepan menjadi kunci strategi Klopp. Seperti yang terjadi di perempat final dan semifinal kala Liverpool memporak-porandakan pertahanan City dan AS Roma.

Sementara bagi Real Madrid, melihat gaya permainan Liverpool yang kerap mengandalkan bola-bola panjang, formasi 4-4-2 yang belakangan ini diterapkan pelatih Zinedine Zidane sudah pasti menemui kendala besar. Kecuali, Zidane berhasil mengunci ruang gerak James Milner atau Jordan Henderson, selaku pemasok bola utama bagi Salah dan Mane.

Seperti diketahui, dalam menyerang, Madrid sering mengandalkan dua beknya untuk menusuk dari sisi lapangan ketika Luka Modric dan Toni Kroos mendapat pressing ketat di lini tengah.

Namun kali ini, Zidane harus teramat hati-hati jika ingin menugaskan Marcelo atau Lucas Vazquez untuk menginisiasi serangan dari sisi lapangan. Karena Pressing tinggi di laga kontra Liverpool sepertinya sudah 99 persen akan terjadi. Sekali bola lepas, kecepatan dan kekompakkan tiga pemain terdepan Liverpool mengancam. Apalagi ketiganya saat ini sudah sangat nge-klik.

“Marcelo adalah pemain yang banyak menyerang, tapi…dia tidak bertahan,” ujar Klopp mengindikasikan kelemahan Real Madrid seperti dikutip Marca.

Reaksi pemain Real Madrid Marcelo setelah timnya menyingkirkan Bayern Munich di semifinal Liga Champions [AFP]

Dengan demikian, pilihan Zidane hanya satu. Yaitu mendominasi penguasaan bola dan mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat guna mengeksploitasi sisi terlemah dari Liverpool, yaitu sisi kiri pertahanan.
Berhadapan dengan Liverpool yang di sepanjang musim 2017/18 terbiasa bermain dengan pressing tinggi, mungkin sulit untuk mendominasi dan mengalirkan bola dengan cepat. Bahkan untuk Real Madrid sekalipun. Sulit tapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.

Kolase foto Cristiano Ronaldo - Mohamed Salah [AFP]

Ego “one man show” Ronaldo dan sikap “tawadhu” Salah bisa jadi menentukan hasil pertandingan

Dua sosok menjadi pusat perhatian jelang laga final Liga Champions musim ini. Pemain tersubur sepanjang sejarah Liga Champions, Cristiano Ronaldo, dan pencetak gol terbanyak di Liga Inggris musim ini, Mohamed Salah.

Ronaldo dan Salah adalah dua pemain yang bermain di posisi serupa, yaitu winger. Di Liga Champions musim ini keduanya sama-sama menjadi momok menakutkan bagi pertahanan lawan, meski Ronaldo yang saat ini mengoleksi 15 gol masih unggul dari pemain asal Mesir yang baru mengantongi 10 gol.

Soal kecepatan dan ketajaman, kedua pemain memang serupa. Tapi Ronaldo dan Salah tetaplah dua sosok dengan tipikal permainan dan kepribadian berbeda. Perbedaan yang mungkin akan menentukan hasil final pada Minggu (27/5/2018) dini hari WIB. Yaitu ego.

Ronaldo memang salah satu pemain terhebat yang ada saat ini. Namun jangan kita lupakan jika Ronaldo adalah tipikal pemain “one man show”. Pemain yang jika sudah memegang bola di kotak penalti lawan tidak akan lirik kanan-kiri. Ketika di ruang sempit pun, pemain berjuluk CR7 akan melepaskan tendangan ke gawang. Terlepas aksinya itu berbuah gol atau tidak.

Berbeda dengan Ronaldo, Salah adalah tipikal pemain yang mengedepankan team work. Ketika mendapat bola di area pertahanan lawan, Salah akan melihat posisi rekan-rekannya– dalam hal ini Sadio Mane dan Roberto Firmino– sebelum memutuskan untuk melepaskan tembakan ke gawang atau menyodorkan ke rekan yang dinilai memiliki peluang mencetak gol lebih besar.

Hal itu terbukti dengan produktivitas lini depan Liverpool di Liga Champions musim ini. Trio Firmino, Mane dan Salah tercatat sebagai lini depan paling produktif dengan torehan 29 gol. Salah dan Firmino masing-masing mencetak 10 gol, dan Mane sembilan gol.

Penyerang Real Madrid, Gareth Bale (kanan), melepaskan tembakan yang gagal dihalau bek kiri Barcelona, Jordi Alba, Sabtu (23/12/2017). [AFP/Javier Soriano]

Zidane butuh kecepatan, Bale berpeluang besar masuk line-up

Seperti dipaparkan di atas, pressing ketat dan kecepatan menjadi kunci bagi kedua tim untuk memenangkan pertandingan di Kiev. Di kubu Liverpool, kecepatan tiga pemain depannya, khususnya Salah, tidak perlu diragukan. Tapi bagi Madrid, Zidane tidak hanya bisa mengandalkan kecepatan dari seorang Cristiano Ronaldo.

Jika menerapkan formasi 4-4-2, kecil kemungkinan Zidane akan menempatkan Karim Benzema dalam starting line-up. Meski pemain asal Prancis itu menyumbang dua gol krusial bagi Los Blancos di leg kedua semifinal kontra Bayern Munich, Benzema mungkin bakal duduk di bangku cadangan.

Membutuhkan pemain yang memiliki kecepatan, sangat besar kemungkinan nama Gareth Bale yang akan dimasukkan Zidane dalam line-up. Bale bakal berduet dengan Ronaldo seperti saat Madrid mengimbangi Barcelona 2-2 di Camp Nou pada 6 Mei lalu dan saat Madrid menutup musim dengan hasil imbang di markas Villarreal akhir pekan kemarin.

Di barisan tengah, Luka Modric dan Toni Kroos akan bertindak sebagai pengatur tempo. Didukung dua pemain yang memiliki kecepatan yang bisa diandalkan seperti Casemiro dan Isco.

Sedangkan untuk menahan gempuran para pemain Liverpool, tugas paling berat berada di pundak sang kapten Sergio Ramos. Ramos harus bisa memastikan tiga rekannya di belakang bermain disiplin dan tidak terlalu jauh meninggalkan pos untuk menutup serangan balik cepat pasukan Jurgen Klopp.

“Jika Marcelo ikut menyerang, Salah akan berada di celah itu,” ujar Klopp dalam sebuah wawancara.

Begitu pula di kubu Liverpool. Mengingat lini belakang The Reds masih menjadi masalah besar bagi Klopp, disiplin sudah menjadi kewajiban bagi kuartet Virgil van Dijk, Dejan Lovren, Andrew Robertson dan pemain muda Alexander-Arnold untuk mengawasi pergerakan Ronaldo dan Bale. Plus Isco yang mungkin saja memainkan peran bak second striker di belakang kedua rekannya tersebut.

Berikut prediksi susunan pemain Real Madrid dan Liverpool di Kiev, 27 Mei mendatang.

Real Madrid: Keylor Navas, Dani Carvajal, Raphael Varane, Sergio Ramos, Marcelo, Casemiro, Kroos, Modric, Isco, Bale, Ronaldo.

Liverpool: Loris Karius, Alexander-Arnold, Virgil Van Dijk, Dejan Lovren, Andrew Robertson, Jordan Henderson, James Milner, Georginio Wijnaldum, Mohamed Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino.

(Suara.com/Kar)

TIDAK ADA KOMENTAR