BEM FISIP Untan Laksanakan Dialog Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama

BEM FISIP Untan Laksanakan Dialog Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama

BERBAGI

Pontianak, thetanjungpuratimes.com- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Untan laksanakan Dialog Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama dengan mengusung tema “Mengokohkan Kebersamaan dan Menguatkan Nilai-nilai Kebangsaan dalam Mencegah Isu SARA”.

Dialog yang digelar di Warung Kopi New Champ ini mendatangkan pemateri dari pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda di Kota Pontianak di antaranya Ketua HMI Pontianak, Ketua PMII Pontianak, Presidium Pengembangan Organisasi PMKRI Pontianak, Sekjen Hikmabuddhi Pontianak, dan Ketua GMNI Pontianak.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.45 WIB ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang mahasiswa yang tersebar di seluruh kampus se-kota Pontianak. Bahkan terdapat pula dua pendaftar yang berasal dari luar daerah, tepatnya dari Universitas Pamulang Tangerang, Banten, Rabu (30/5/2018).

Ketua BEM FISIP Untan, Adi Afrianto mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya kegiatan ini ialah memberikan pencerahan kepada peserta terkait dengan isu-isu yang tengah berkembang saat ini.

“Tujuan dari penyelenggaraan dialog kebangsaan ini ialah memberikan pencerahan kepada para peserta terkait dengan isu-isu yang tengah berkembang saat ini, seperti SARA dan terorisme,” ungkapnya.

Nuryasin, Ketua Umum HMI Cabang Pontianak selaku narasumber pertama mengapresiasi BEM FISIP Untan atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap nilai-nilai Pancasila, khususnya yang terjadi di sekolah-sekolah.

“Saya sangat mengapresiasi BEM FISIP Untan karena kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kita kepada masyarakat dan bagaimana kita mentransformasikan nilai-nilai kebaikan yang ada di kampus. Sebagai orang pendidikan, saya menyoroti nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolah. Dahulu, banyak sekali mata pelajaran yang berkaitan dengan kebangsaan yang masuk ke sekolah. Namun kondisi berbanding terbalik dengan yang terjadi saat ini,” ujar Yasin.

Srilinus Lino selaku narasumber kedua lebih menyoroti mahasiswa yang harusnya berperan sebagai penenang bagi masyarakat.

“Berbagai aksi teror yang terjadi belakangan tentunya meresahkan masyarakat. Mahasiswa harusnya mampu mengambil sikap dan menjadi penenang masyarakat dalam menghadapi aksi teror,” ucap Lino.

Sekretaris Hikmabuddhi Pontianak, Jhon Miranda yang dipercaya menjadi narasumber ketiga lebih memfokuskan topik bahasan kepada sikap pemuda terhadap media sosial.

“Hadirnya media sosial ialah anugerah bagi kita semua. Akan tetapi, media sosial juga akan menjadi bencana apabila tidak digunakan dengan bijak. Sebagai pemuda, kita harus bijak agar tidak menjadi penyebar isu-isu SARA di media sosial,” ketus Jhon.

Narasumber keempat yang berasal dari GMNI Pontianak, Nurmantyo menjelaskan keunikan pluralisme di Kalbar.

“Kalbar ialah provinsi yang unik dengan pluralisme yang menyertainya. Saya katakan unik karena meskipun Kalbar terdiri atas berbagai suku, tapi mampu hidup berdampingan dan rukun,” ujarnya.

Abdul Wesi Ibrahim selaku narasumber terakhir mengungkapkan kondisi bangsa saat ini. Ia mengatakan keharmonisan yang sudah terjalin ini jangan sampai hancur hanya karena adanya berbagai perbedaan.

“Perbedaan-perbedaan yang ada di tengah-tengah kita jangan sampai memantik perpecahan. Jika pecah, maka akan sulit untuk menyatukannya kembali. Kita tahu bahwa negara-negara Islam di luar sana sudah banyak yang hancur karena perang antar suku. Negara kita jangan sampai menyusul mereka,” tutup Wesi.

Kegiatan Dialog Kebangsaan diakhiri penyerahan plakat kepada narasumber dan ditutup dengan buka puasa bersama.

(R/Sukardi)

TIDAK ADA KOMENTAR