Manfaat Biji Nangka Bagi Penderita Gizi Buruk

Manfaat Biji Nangka Bagi Penderita Gizi Buruk

BERBAGI
Foto: Biji Nangka/Shutterstock

Thetanjungpuratimes.com– Kebutuhan dasar manusia yang paling penting dalam melanjutkan keberlangsungan hidup manusia adalah pangan. Yang menjadi landasan utama manusia dalam mewujudkan hidup sehat dan sejahtera adalah pangan sebagai sumber gizi (karbihidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air). Perubahan gaya hidup masyarakat menjadi pola hidup tidak sehat telah mendorong terjadinya berbagai penyakit yang mempengaruhi metabolisme, salah satunya adalah penyakit gizi buruk. Keadaan gizi yang baik merupakan syarat utama kesehatan dan berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Penyakit gizi buruk menurut World Health Organization (WHO) ditentukan bedasarkan indikator antropometri berat badan (BB/TB) dengan z-skor BB/TB <-3 SD dan ada atau tidaknya odema (Sanchez pedro, et all, 2010).

Faktor penyebab dari penyakit gizi buruk dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung penyakit gizi buruk meliputi kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi dan menderita penyakit infeksi, sedangkan penyebab tidak langsung penyakit gizi buruk adalah kemiskinan, pola asuh yang kurang memadai, pendidikan rendah dan  ketersediaan pangan rumah tangga. Faktor yang merupakan faktor terpenting adalah faktor ketersediaan pangan. Faktor konsumsi makanan merupakan penyebab langsung dari kejadian gizi buruk pada balita. Hal ini disebabkan oleh mengkonsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai dengan kebutuhan, bersih dan aman sehingga akan berakibat secara langsung terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan pada balita. Faktor penyakit infeksi berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular seperti diare, cacingan dan ISPA. Faktor kemiskinan sering disebut sebagai akar dari kekurangan gizi, yang mana faktor ini erat berkaitan nya dengan daya beli pangan dari rumah tangga sehingga berdampak terhadap pemenuhan zat gizi (Ramadani,I.R, 2013).

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia Tahun 2015, sebanyak 26.518 Balita mengalami gizi buruk dengan prevalensi gizi buruk sebanyak 3,8% di Indonesia. Dilihat dari data provinsi jawa tengah merupakan salah satunya dengan jumlah balita yang menderita gizi buruk sebanyak 922 kasus pada tahun 2015 (Kemenkes RI, 2015). Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang dapat menghambat proses pertumbuhan fisik, mental dan kemampuasn berpikir. Balita yang menderiya gizi buruk dapat mengalami penurunan tingkat kecerdasan hingga 10%. Dampak paling buruk nya adalah kematian pada usia dini (Dewi,R.K dan Nyoman Budiantara, 2012).

Indonesia adalah negara yang tropis yang banyak ditumbuhi beranekaragam jenis tanaman, salah satu nya adalah tanaman nangka. Tanaman nangka disebut juga dengan (Artocarpus heterophyllus lamk). Buah nangka merupakan salah satu buah yang diperbanyak dengan bijinya. Biji nangka merupakan bahan yang sering terbuang setelah dikonsumsi walaupun ada sebagian kecil masyarakat yang mengolahnya untuk dijadikan makanan misalnya diolah menjadi kolak ataupun tepung. Biji nangka berbentuk bulat sampai lonjong, berukuran kecil lebih kurang dari 3,5 cm (3g-9g), berkeping dua dan rata-rata tiap buah nangka berisi biji yang beratnya sepertiga dari berat buah, sisanya adalah kulit dan daging buah. Jumlah biji per buah nangka dapat mencapai 150-350 biji dan panjang biji nangka sekitar 3,5-4,5 cm. Hingga saat ini biji nangka masih merupakan bahan non-ekonomis dan sebagai limbah buangan konsumen nangka. Biji nangka terdiri dari tiga lapis kulit, yakni kulit luar berwarna kuning agak lunak, kulit liat berwarna putih dan kulit ari berwarna cokelat yang membungkus daging buah (Rukmaha, 1997).

Pemanfaatan tanaman nangka telah banyak di industri pangan. Namun belum semua bagian tanaman nangka ini yang dapat digunakan secara optimal sebagai komoditas yang berdaya nilai tinggi. Potensi biji nangka (Arthocarphus heterophilus lamk) yang besar belum dimanfaatkan secara optimal. Sangat rendahnya pemanfaatan biji nangka dalam bidang pangan yakni hanya sekitar 10% disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam pengolahan biji nangka. Padahal biji nangka mengandung sumber gizi yang cukup tinggi (Sari, 2012).

Menurut Wistyani (2005), kemajuan di bidang teknologi pangan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan biji nangka secara optimal dengan dibuat menjadi ekstrak tepung biji nangka yang diharapkan dapat meningkatkan konsumsi gizi yang lebih variatif bagi masyarakat. Pemanfaatan ekstrak tepung biji nangka dioptimalkan dalam kehidupan masyarakat khusus nya penderita gizi buruk pada balita karena kandungan gizi yang terdapat didalamnya (Esti dan Irul, 2017).

Biji nangka merupakan sumber karbohidrat (36,7 g/100 g), protein (4,2 g/100 g), dan energi (165 kkal/100 g), sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang potensial. Biji nangka juga merupakan sumber mineral yang baik terutama fosfor. Kandungan mineral per 100 gram biji nangka adalah fosfor (200 mg), kalsium (33 mg), dan besi (1,0 mg). Selain dapat dimakan dalam bentuk utuh, biji nangka juga dapat diolah menjadi tepung. Selanjutnya dari tepungnya dapat dihasilkan berbagai makanan olahan (Nuraini, 2011).

Biji nangka juga memiliki kandungan glukosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan salak. Hal ini dibuktikan saat biji nangka difermentasi pada varietas bubur terkandung glukosa sebesar 58%, dimana nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan varietas salak sebesar 39,68%. Kandungan karbohidrat pada biji nangka juga tergolong tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan alternatif pangan serta proses pembuatan alkohol dengan cara difermentasikan. Selain itu, biji nangka memiliki kandungan protein yang tinggi pula (Nuraini, 2011).

Biji nangka memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang lebih baik dibandingkan jagung dan singkong sehingga berpotensi untuk dijadikan bahan dasar ekstrak tepung biji nangka. Selain itu, biji nangka juga mengandung protein dan mineral esensial yang lebih baik dibandingkan jagung dan singkong, dimana protein dan mineral ini berguna untuk pertumbuhan terutama pada balita dan anak-anak. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan kandungan nutrisi biji nangka dan beras giling per 100 gram nya, yang menujukan bahwa secara umum, kandungan gizi beras dan biji nangka tidak memiliki selisih yang signifikan. Namun,bila dibandingkan kandungan gizinya, biji nangka memiliki jenis nutrisi yang lebih lengkap dibandingkan nasi putih. Biji nangka mengandung vitamin B1 yang lebih banyak dan vitamin C yang tidak terkandung di dalam beras. Serat yang terkandung di dalam biji nangka cukup tinggi sehingga lebih bermanfaat untuk kesehatan pencernaan Selain itu kandungan mineral fosfor dan besi pada biji nangka lebih banyak daripada beras (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Indonesia, 2009).

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa biji nangka dapat digunakan sebagai sumber alternatif gizi untuk penyakit gizi buruk. Hal ini dikarenakan biji nangka memiliki kandungan sebagai sumber gizi (karbihidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air) . Oleh karena itu, mengkonsumsi biji nangka yang telah diolah menjadi tepung atau ektrak lain nya secara rutin, diharapkan dapat mencegah dan membantu mengurangi penyebaran kasus penyaikt gizi buruk.

Penulis Dede Rahmad Juniardi Mahasiswa Jurusan kimia FMIPA Universitas Tanjungpura

TIDAK ADA KOMENTAR