Pisang Kapas sebagai Antidiabetes

Pisang Kapas sebagai Antidiabetes

BERBAGI
Foto: Annisa Furqonita mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UniversitasTanjungpura

Thetanjungpuratimes.com – Diabetes Melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Hal ini terjadi karena penderita DM tidak dapat memproduksi atau tidak dapat merespon hormon insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas, sehingga kadar gula dalam darah melebihi 150 mg/dl, dimana batas normal gula darah adalah 70-150 mg/dl,. Menurut Suranto (2014) meningkatnya kadar gula darah dapat memberikan beberapa dampak negatif yang dapat dirasakan langsung dan akan memberikan rasa tidak nyaman terhadap tubuh. Salah satu dampaknya ialah dapat mengganggu konsentrasi untuk tidur nyenyak, dikarenakan seringnya keinginan untuk buang air kecil pada malam hari. Selain itu, kadang muncul rasa haus yang berlebihan.

Menurut Tentero et al (2016) gangguan tidur merupakan masalah umum yang terjadi pada pasien DM dan sebaliknya DM juga dapat menimbulkan gangguan tidur akibat adanya keluhan nocturia dan nyeri. Tidur yang cukup merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap individu, terutama pasien yang menderita DM, dimana gangguan tidur atau tidur yang kurang secara fisiologi dapat mempengaruhi peningkatan kadar glukosa darah yang berdampak terhadap kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari, serta dapat pula mempengaruhi motivasi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Diabetes Melitus (DM) juga merupakan masalah serius dengan angka kejadian yang meningkat tajam. DM dapat menyerang hampir semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah penderita DM terus bertambah dari tahun ke tahun karena pola hidup manusia zaman sekarang yang cenderung jarang bergerak dan pola makan yang tidak sehat. Menurut WHO, pada tahun 2014, 8,5% dari orang dewasa berusia 18 tahun dan lebih tua menderita DM. Pada tahun 2012 DM menjadi penyebab utama dari 1,5 juta kematian. Pada tahun 2014, Indonesia memiliki sekitar 9,1 juta penyandang DM. Ini merupakan jumlah terbanyak keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Cina, dan India.

Dalam upaya untuk menyembuhkan penyakitnya, penderita DM memanfaatkan obat-obatan tradisional. Saat ini pemerintah Indonesia juga menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi obat berbahan tradisional karena mengingat efek sampingnya yang rendah. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang memilih pengobatan secara medis. Menurut Ernawati (2013) pengobatan yang dilakukan dalam jangka waktu panjang dan secara terus menerus akan berdampak pada finansial pasien diabetes mellitus tersebut, karena biaya pengobatan diabetes mellitus membutuhkan biaya yang besar.

Sedangkan menurut Sari (2013), ada beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih pengobatan yaitu tingkat pendidikan, motivasi diri, dan sosial ekonomi. Tingkat pendidikan yang rendah berdampak pada pengetahuan seseorang dalam masalah kesehatan khususnya pengobatan DM. Umumnya orang yang berpendidikan tinggi akan lebih memilih menggunakan obat medis dan tradisional dibandingkan dengan obat medis saja. Selain itu, motivasi diri juga mempengaruhi orang dalam memilih pengobatan.

Motivasi diri yang rendah dalam pengobatan medis mengakibatkan orang cenderung lebih memilih pengobatan tradisional. Rendahnya status ekonomi juga menjadi penyebab orang dalam memilih pengobatan tradisional, karena pengobatan tradisional lebih murah dibandingkan dengan obat medis. Menurut Yuka (2011), kebudayaan mempengaruhi masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional. Hal ini dikarenakan kebudayaan didasari oleh turun temurun dan dapat mempengaruhi keyakinan orang dalam menggunakan obat tradisional.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan Ros (2000) dan Suharmiati (2003) beberapa bahan alam terbukti dapat menjadi sumber bahan baku obat antidiabetes mellitus karena dalam bahan tersebut mengandung senyawa yang mampu menurunkan kadar glukosa dalam darah, di antaranya senyawa kuinon, clatoside E, clatoside F, oleanolic acid glycoside, alkaloid, trigonelin, diosgenin, kumarin, xanton, methylcysteinesulphoxide serta beberapa senyawa yang masih dalam tahap pengujian dari 250.000 jenis bahan alam di dunia yang diperkirakan mengandung senyawa antidiabetes mellitus. Beberapa tanaman terbukti secara ilmiah dapat digunakan untuk mengobati diabetes mellitus, di antaranya Musa sapientum L. atau Musa paradisiaca L.

Tanaman pisang merupakan salah satu tanaman pangan Indonesia yang memiliki berbagai khasiat. Dalam masyarakat, buah pisang kapas (Musa paradisiaca L.) dikenal sebagai pencahar atau laksan sehingga dapat digunakan dalam pengobatan sembelit (Thomas, 1992). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pari dan Umamaheswari (2000) ; Ros (2000) melaporkan bahwa ekstrak kloroformik dan ekstrak etanolik pisang kapas dapat berkhasiat sebagai antidiabetes. Namun pada penelitian tersebut belum dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak kloroformik dan ekstrak etanolik pisang kapas. Oleh sebab itu dalam rangka saintifikasi terhadap bahan alam untuk pengobatan diabetes mellitus dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak etanolik pisang kapas dan dilakukan uji aktivitas antidiabetes terhadap fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas pada tikus serta pelacakan senyawa aktifnya. Penelitian terhadap fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas ini selain dapat meningkatkan manfaat pisang kapas, juga menambah daftar bahan pangan yang berkhasiat sebagai obat yang sesuai bagi penderita diabetes, dan diharapkan agar masyarakat juga mempunyai dasar ilmiah yang jelas tentang penggunaan pisang kapas sebagai antidiabetes.

Ros (2000) melaporkan bahwa aktifitas penurunan kadar glukosa darah dapat terjadi karena keberadaan: (1) senyawa dalam fraksi atau ekstrak pisang yang dapat menstimulasi pembentukan glikogen; (2) senyawa mirip insulin dan mempunyai aksi seperti insulin, sama halnya dengan mekanisme obat derivat sulfonilurea; dan (3) senyawa yang dapat menghambat absorpsi glukosa di usus. Untuk mengetahui senyawa aktif dan mekanisme aksi dari beberapa senyawa yang mungkin terdapat dalam fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Penulis : Annisa Furqonita
Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura

TIDAK ADA KOMENTAR