PKM Inisiasi Teknologi Hayati di Desa Antan Rayan Kecamatan Ngabang

PKM Inisiasi Teknologi Hayati di Desa Antan Rayan Kecamatan Ngabang

BERBAGI

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Tim PKM Universitas Tanjungpura, dalam hal ini diwakili oleh Dr. Ir. Hanna Artuti Ekamawanti, M.Si. dan Dr. Herkulana, M.S. telah melaksanakan salah satu dharma dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian pada Masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan merupakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerjasama dengan Kelompok Tani Naremang dan Kelompok Pemuda GPdI Nangun Nuyung di dusun Sungai Durian desa Antan Rayan, kecamatan Ngabang, kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

PKM yang telah dilaksanakan dari bulan April hingga Agustus 2018 mengusung tema “PKM Inisiasi Teknologi Hayati di Desa Antan Rayan Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat.” PKM ini dimaksudkan untuk menginisiasi munculnya wirausahawan pertanian melalui tahapan penyadaran (penyuluhan dan pembekalan/bimbingan teknis) dan tahap penumbuhan (pendampingan praktis, pengawasan dan evaluasi).

Tingkat kesuburan tanah yang rendah di lahan bekas perladangan serta keterbatasan ketersediaan bibit unggul menginspirasi untuk diterapkannya teknologi inokulasi mikoriza pada tanaman inang menggunakan inokulum FMA. Inisiasi teknologi hayati merupakan kegiatan mengenalkan dan mengaplikasikan teknologi berbahan alami yang telah disediakan oleh alam, dalam hal ini adalah inokulum fungi arbuskula mikoriza (FMA).

Inokulum FMA atau lebih dikenal sebagai pupuk hayati dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, karena berfungsi sebagai agens hayati yang dapat membantu tanaman menyerap unsur hara, terutama fosfor (P) dalam bentuk fosfat. Anggota kelompok tani diberi pengetahuan dan cara membuat inokulum FMA dan mengaplikasikannya pada tanaman sehingga petani dapat membuat bibit-bibit unggul yang dihasilkan sendiri dan dapat ditanam di lahan tidur/lahan tidak produktif.

Produksi massal inokulum FMA skala rumah kasa juga telah dipraktikkan dalam kegiatan ini dan diharapkan dengan bantuan quality control dari nara sumber, Dr. Hanna Artuti, kelompok tani Naremang dapat menghasilkan inokulum FMA yang dapat dipasarkan.

Selain itu, kelompok tani juga diberikan pelatihan tentang cara membuat arang sekam dari sekam padi yang selama ini tidak dimanfaatkan . Produk arang sekam padi bahkan dapat dijual dalam bentuk kemasan untuk meningkatkan nilai ekonomi yang tadinya dianggap limbah. Saat ini produk arang sekam Naremang dan inokulum FMA Naremang dipasarkan dengan menggunakan media online seperti Instagram (@naremang_berkara) dan Facebook Naremang (naremangsquad@gmail.com).

Selain memberikan pelatihan terkait dengan teknologi hayati, Tim PKM Universitas Tanjungpura juga memberikan penyuluhan untuk membuka wawasan dan menanamkan spirit kewirausahaan.

Dalam paparannya, Dr. Herkulana memberikan pengetahuan tentang peluang usaha, manajemen usaha serta menginisiasi pembentukan pengurus inti koperasi kelompok tani. Kegiatan PKM ini diikuti dengan antusias oleh anggota kelompok tani Naremang dan kelompok pemuda GPdI.

Bapak Barus, sebagai ketua kelompok tani Naremang, menyatakan bahwa materi terkait teknologi hayati mikoriza merupakan informasi yang sangat baru bagi mereka dan belum pernah didengar bahkan diketahui. Selain itu, proses produksi arang sekam yang dapat dibuat dengan cara yang sangat sederhana, mudah dan murah juga menjadi daya tarik tersendiri sehingga petani dapat membuatnya.

PKM inidiakhiri dengan serah terima barang dari Tim PKM Universitas Tanjungpura, berupa bangunan rumah kasa (5m x 4m) untuk tempat produksi inokulum mikoriza, bedeng sapih (7m x 6m) untuk pembuatan bibit unggul, cerobong untuk pembuatan arang sekam, satu sealer kantong plastik, zeolit (sebagai media pembawa inokulum mikoriza sebanyak 200 kg, dan inokulum awal mikoriza sebanyak 10 kg.

Kedua kelompok masyarakat yang mengikuti kegiatan PKM ini berkomitmen untuk mempraktikkan dan mengembangkan pengetahuan yang sudah diterima. Berbekal pengetahuan ini peserta PKM diharapkan dapat mengembangkan produk berbasis teknologi hayati bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka namun dapat dipasarkan di wilayah sekitarnya di Kalimantan Barat.

Ketelibatan kelompok pemuda GPdI pada PKM memberikan secercah harapan mengingat sektor pertanian, perkebunan maupun kehutanan, dihadapkan pada tantangan menurunnya minat para pemuda desa untuk bekerja pada sektor ini. Selain itu dapat meningkatkan kesejateraan petani lokal dan membuka peluang usaha. Mari dukung petani lokal dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk hayati.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

TIDAK ADA KOMENTAR