42.755 Ha Gambut Kalbar Telah Dilakukan Upaya Restorasi

42.755 Ha Gambut Kalbar Telah Dilakukan Upaya Restorasi

BERBAGI

Pontianak, thetanjungpuratimes.com– Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia menyampaikan sebanyak 42.755 hektar ekosistem gambut di Kalimantan Barat telah dilakukan upaya restorasi.

“Badan Restorasi Gambut dan Pemda Kalimantan Barat terus melakukan upaya aktif restorasi ekosistem gambut melalui pembahasan kembali, revegetasi, revitalisasi sosial-ekonomi masyarakat dan program Desa Peduli Gambut. Hingga 2018, telah dilakukan pembahasan gambut pada 42.755 hektar areal gambut rusak di Kalbar,” tutur Dr Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, dalam diskusi media di Pontianak, Rabu (20/3/2019).

Foto: Dr Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG/Sukardi

Mryna menjelaskan, pembasahan ekosistem gambut merupakan upaya awal pencegahan kebakaran. “Namun kita perlu tetap waspada karena kebakaran masih berpotensi terjadi. Kerusakan gambut yang sangat parah memerlukan waktu panjang untuk pemulihan karena gambut belum sepenuhnya kembali ke kondisi semula,” jelasnya.

Myrna menyebutkan, di Kalbar, BRG, Pemda dan mitra LSM telah membangun Infrastruktur Pembasahan Gambut (PIPG) sejak tahun 2016. Hingga 2018 berhasil membangun 326 unit sumur bor dan 479 unit sekat kanal. Selain itu, kegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui program Desa Peduli Gambut (DPG). Di Kalbar, program DPG dilakukan di 31 desa/kelurahan yang berada di Kubu Raya, Pontianak, Mempawah, Kayong Utara dan Sambas.

“Program DPG berkontribusi pada peningkatan status kemajuan desa. Kami membuat indeks Desa Peduli Gambut sebagai pendetilan Indeks Desa Membangun,” papar Myrna.

Deputi Bidang Perencanaan dan Kerjasama Badan Restorasi Gambut, Dr Budi Wardhana, menambahkan bahwa luas kebakaran lahan gambut di area target restorasi gambut BRG berkurang dari 26.664 hektar pada tahun 2015 menjadi 2.599 hektar pada 2019.

“PIPG atau Infrastruktur Pembasahan Gambut yang dibangun oleh BRG bersama dengan mitra berhasil menurunkan titik panas secara signifikan di area sekitar lokasi PPIG. Jika berada pada radius 0-1 km dari PPIG, rata-rata hanya ada 2,4 % hotspot. Semakin jauh dari PPIG, hotspot bertambah, misalnya pada jarak 1-2 km, ditemukan 6,5 % hotspot dan pada jarak lebih dari 2 km ada 92% hotspot,” ujar Budi.

Ketua Tim Restorasi Gambut Daerah Kalbar, Ir H Adi Yani MH, menjelaskan upaya restorasi gambut terus melibatkan masyarakat di tingkat desa. Pengembangan kapasitas dan ekonomi masyarakat desa melalui mekanisme Tugas Pembantuan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pencegahan karhulta, restorasi gambut dan ekonomi produktif yang terus dilakukan.

“Salah satu wujud pengembangan ekonomi masyarakat desa adalah dengan 19 paket revitalisasi ekonomi berupa peternakan dan perikanan yang telah didistribusikan di Kalbar,” ujar Adi Yani.

Adi Yani menambahkan, untuk memantau kinerja intervensi PIPG yang telah dibangun, BRG bersama mitra mengembangkan teknologi pemantauan tinggi muka air (TMA) di lahan gambut secara realtime melalui Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA). Hingga Desember 2018, telah terpasang 12 unit pemantau TMA di Kalbar, alat tersebut akan merekam parameter tinggi muka air, kelembapan tanah dan curah hujan per 10 menit dan akan mengirimkan datanya setiap harinya ke server.

“Pada tahun 2019 ini diharapkan seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha berkomitmen untuk terus menjaga ekosistem gambut di Kalbar, sehingga kebakaran lahan yang menimbulkan bencana kabut asap tidak perlu terulang. Terkait dengan restorasi gambut di lahan konsesi, BRG sesuai fungsinya dalam Perpres No.1/2016 melakukan asistensi teknis atau supervisi kepada perusahaan agar dapat menjalankan restorasi hidrologi sesuai peraturan. Saat ini fokus supervisi adalah untuk perusahaan sawit. BRG dan Ditjen Perkebunan telah memiliki MoU untuk pelaksanaan supervisi bersama,” pungkasnya.

(Sukardi)

TIDAK ADA KOMENTAR