Prof Garuda Wiko Bicara Pentingnya Peran Badan Arbitrase Nasional

Prof Garuda Wiko Bicara Pentingnya Peran Badan Arbitrase Nasional

BERBAGI

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Universitas Tanjungpura (Untan) menggelar seminar nasional tentang penyelesaian sengketa melalui arbitrase di bidang infrastruktur dan penandatangan MoU bersama Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), berlangsung di Lantai 3 Gedung Rektorat Untan, Senin (29/4/2019).

Rektor Untan, Prof Garuda Wiko menuturkan, acara ini penting karena sebagaimana kita ketahui belakangan ini kegiatan-kegiatan di bidang infrastruktur meningkat secara signifikan, tentu kita tidak berharap kegiatan itu di belakang hari menimbulkan klaim.

“Kalau klaim saja dipenuhi tidak bermasalah, selesai masalahnya. Kalau klaim itu tidak dipenuhi oleh salah satu pihak dan terus mengalir maka yang muncul adalah sengketa. Oleh karena itu, sesuai dengan undang-undang jasa kontruksi sekarang ini ada pilihan yang luas kepada para pihak,” ujarnya.

Prof Garuda Wiko mengatakan, Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) pertama kali berdiri pada tahun 1977 oleh KADIN atau Kamar Dagang dan Industri di Indonesia. Pendirian ini dimaksudkan untuk menjembatani sengketa perdagangan atau jenis lainnya tanpa harus ke pengadilan.

“Kerjasama Untan dan BANI memang kita perlukan terutama dari sisi sosialisasinya karena cukup banyak pihak-pihak yang sebetulnya bisa memilih forum penyelesaian sengketa melalui arbitrase itu belum tersosialisasikan dengan baik. Oleh karena itu Untan bersama BANI melaksanakan MoU hari ini untuk melakukan langkah-langkah yang signifikan untuk mensosialisasikan forum arbitrase tersebut,” tuturnya.

Ketua BANI, Husseyn Umar, mengatakan pihaknya selaku lembaga arbitrase tertua dan terbesar di Indonesia, memang senantiasa terus mensosilisasikan wawasan mengenai arbitrase kepada semua kalangan. “Kerjasama dengan Untan ini adalah salah satu bentuk cara kami mensosialisasikan arbitrase di kalangan akademisi,” ujarnya.

Menurut Husseyn, sangat penting sekali akademisi memahami arbitrase, karena jika perkembangan dunia arbitrase yang sangat cepat ini, jika tidak segera diantisipasi oleh dunia akademik, mahasiswa khususnya dari fakultas hukum bisa ketinggalan.

Setelah menandatangani MoU tersebut, acara dilanjutkan dengan pemaparan narasumber yang dalam paparannya menyampaikan, di Indonesia minat untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase mulai meningkat sejak tahun 1999, perkembangan ini sejalan dengan arah globalisasi, dimana penyelesaian sengketa di luar pengadilan telah menjadi pilihan pelaku bisnis untuk menyelesaikan sengketa bisnis.

Adapun narasumber pada seminar nasional tentang penyelesaian sengketa melalui arbitrase di bidang infrastruktur ini yakni M. Husseyn Umar SH FCB FCIArb , Prof  Dr Garuda Wiko SH MSi FCBArb, Bambang Hariyanto SH MH FCBArb, Ir Baskoro Efendy dan Dr Purwanto SH MHum.

(Sukardi)

TIDAK ADA KOMENTAR