Teknologi dan Pendidikan : Peran Teknologi Dalam Kemajuan Pendidikan di Indonesia

Teknologi dan Pendidikan : Peran Teknologi Dalam Kemajuan Pendidikan di Indonesia

BERBAGI
Teknologi dan Pendidikan : Peran Teknologi Dalam Kemajuan Pendidikan di Indonesia (Dok. Quipper)

Thetanjungpuratimes.com – Pendidikan akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian. Lantaran Jokowi baru saja melantik menteri muda yaitu Founder Go-Jek, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Berkembang pemikiran apakah teknologi akan di kembangkan dalam dunia pendidikan melalui Kurikulum baru yang akan di buat oleh menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju Periode Kedua Jokowi ini.

Dapatkah Nadiem Makarim menjawab tantangan yang ada di masyarakat, banyak sekali masalah-masalah yang hingga saat ini masih terjadi di dunia pendidikan seperti Fasilitas Penunjang untuk belajar, Tenaga Pengajar yang masih kurang, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, dan kekerasan terhadap siswa maupun guru yang masih sering terjadi.

Mampukah menteri milenial ini membuat terobosan baru dalam lingkungan pendidikan melalui teknologi dan apakah akan bermanfaat bagi sistem pendidikan di Indonesia. Dapatkah Ia menjawab tantangan zaman untuk menyusun sebuah kurikulum yang cocok untuk sistem pendidikan di Indonesia.

4 Prioritas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyampaikan empat prioritas Kementeriannya. Empat hal tersebut disampaikan dalam rapat Koordinasi bersama di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Pertama, adalah pembelajaran anak. Ia akan mengecek apa yang diberikan oleh Kementerian terserap oleh para siswa. Ia menekankan hal tersebut.

Kedua, Struktur Kelembagaan. Nadiem mengatakan struktur kelembagaan baik internal maupun eksternal akan mendukung tujuan pembelajaran. Struktur Kelembagaan tersebut bisa berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran.

Ketiga, Menggerakan Revolusi Mental di masyarakat jadi pengembangan karakter itu bukan hanya dari kurikulum, bukan hanya dari pembelajaran guru tapi masyarakat secara luas.

Keempat, Pengembangan Teknologi. Nadiem menyebut dalam hal ini banyak yang harus di fokuskan. Fokus dari teknologi ini bisa membantu guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan.

Nadiem Makarim menyebut ada paradigma yang keliru di masyarakat soal pengembangan  teknologi di ranah pendidikan banyak di salahpahami, di artikan akan menggantikan peran guru dan menembus batas ruang kelas. ” Teknologi itu untuk memperbaiki atau meningkatkan kapasitas”, Bukan menggantikan peran guru.

Kurikulum bakal berubah lagi : Bahasa Inggris SMP dan SMA di hapus, SD 5 mata pelajaran

Kurikulum pendidikan di tanah air nampaknya bakal berubah lagi. Hal itu terungkap saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud), Nadiem Makarim mengundang sejumlah organisasi guru ke kantornya. Dia ingin mendengar cerita dan solusi masalah pendidikan tanah air dari para guru.

Dalam pertemuan pada 4 November itulah muncul wacana mengubah kurikulum. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim ikut hadir dan berdiskusi dalam acara tersebut.

Menurut Dia, rencananya Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta Pendidikan Karakter berbasis Agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran ( mapel) utama di SD.

“Karena itu, mapel Bahasa Inggris di hapus untuk tingkatan SMP dan SMA. Sebab sudah di tuntaskan di SD” Ungkap Ramli

Pembelajaran Bahasa Inggris yang di maksud Nadiem, lanjut Dia, lebih fokus mengajarkan percakapan. Bukan kata bahasa.

Kemudian, untuk SMP tidak boleh lebih dari lima mapel yang diajarkan kepada siswa. Sedangkan untuk SMA maksimal enam mapel tanpa penjurusan. Karena SMK fokus mengajarkan keahlian tertentu, muncul wacana untuk menggunakan sistem SKS ( Sistem Kredit Semester). Dengan begitu, siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun menempuh pembelajaran di sekolah. Sedangkan siswa yang dianggap lambat menyerap ilmu bisa sampai 4 tahun untuk lulus.

Menurut Ramli, Nadiem bahkan mengusulkan ujian kelulusan SMK tidak hanya normatif. Lebih ke praktis untuk mengukur keterampilan dan keahlian siswa. “SMK tidak boleh kalah dari Balai Latihan Kerja yang hanya tiga, enam sampai dua belas bulan saja”, ujarnya.

Sementara itu, Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengikuti arahan presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan dan mengelola sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar lebih maju dan unggul. Menurut Dia, mengubah kurikulum itu bukan hanya mengubah konten.

Esensinya adalah menyederhanakan dan mengubah cara penyampaian materi kepada siswa untuk tidak hanya sekedar menghafal.

“Dan itu adalah PR (Pekerjaan Rumah) saya untuk bisa mengubahnya. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa di ubah dalam waktu cepat. Perlu pemikiran yang sangat matang dan butuh masukan dari para guru dan pihak lain. Jadi, penyempurnaan, penyederhanaan, dan perubahan kurikulum itu, saya mengacu pada guru, “ungkap mantan Bos Go-Jek itu. Sebab, kata Nadiem, guru yang lebih mengetahui dan memahami apa yang di perlukan siswa-siswanya.

Menurut Dia, Guru-guru era sekarang sudah canggih. Mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan teknologi, guru bisa bebas memilih konten seperti apa yang cocok dengan materi pelajaran. Dengan begitu, banyak inovasi akan muncul.

Dari momen-momen tersebut bisa memicu pemerintah daerah untuk mengelar pelatihan guru berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran bisa menjadi lebih efisien dan fleksibel.

“Namun yang perlu diingat, teknologi tidak bisa menggantikan peran seorang guru. Karena pembelajaran yang sesungguhnya adalah adanya koneksi batin guru dan siswa. Teknologi adalah alat, bukan segalanya. ” jelasnya

Nadiem membenarkan, dalam pertemuan dengan beberapa organisasi guru. Banyak guru yang ingin bebas dan merdeka untuk memberikan yang terbaik kepada siswanya. Dalam arti, mereka tidak di bebani tugas yang sifatnya administratif.

“Kalau kebanyakan tugas untuk guru tersebut. Soal administratif ( seperti Sertifikasi atau kenaikan pangkat), tentunya waktu untuk anak dan energi akan terkuras. Itu yang harus dipikirkan, ” ungkap Nadiem

Norani (Mahasiswi Fisipol Ilmu Administrasi Publik)

Norani (Mahasiswi Fisipol Ilmu Administrasi Publik)

TIDAK ADA KOMENTAR