Mark Zuckerberg Kecam Direktur Facebook yang Hina India

thetanjungpuratimes.com – Direktur Eksekutif dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, pada Rabu (10/2), mengecam salah satu anggota dewan direktur perusahaan media sosial itu karena menulis komentar yang menghina India, dengan mengungkit-ungkit isu penjajahan atau kolonialisme.

Hubungan Facebook dengan India memang sedang tak harmonis setelah pemerintah negara itu mematikan layanan internet gratis yang disediakan oleh Facebook untuk warga miskin. Alasan pemutusan itu karena internet gratis yang ditawarkan hanya bisa digunakan untuk mengakses beberapa website, termasuk Facebook.

Facebook sendiri menyangkan keputusan India itu dan Marc Andreessen, salah satu anggota dewan direktur Facebook, ikut membela kebijakan Facebook. Andreessen, dalam sebuah diskusi di Twitter, mengatakan bahwa warga India adalah yang dirugikan oleh kebijakan pemerintahnya itu.

Tetapi ketika seorang pengguna Twitter membandingkan upaya Facebook itu dengan bentuk-bentuk penjajahan baru, Andreessen membalas dengan sengit, “Anti-kolonialisme secara ekonomi telah menjadi bencana bagi orang India selama berdekade-dekade. Kenapa harus dihentikan sekarang?”

Tulisan Andreessen itu langsung ramai ditanggapi dengan kemarahan oleh warga India di Twitter. Mereka membandingkan Facebook dengan East India Company, perusahaan Inggris yang menjajah India dan memonopoli industri di negeri itu pada abad 19 – saingan VOC di Indonesia.

Adapun Facebook dengan cepat membantah jika komentar Andreessen merupakan kebijakan perusahaan.

“Kami dengan tegas menentang sentimen yang ditunjukkan oleh Marc Andreessen terkait India,” bunyi pernyataan resmi Facebook.

Zuckerberg pun tak tinggal diam. Di akun Facebooknya, dia menulis bahwa komentar koleganya itu sangat mengecewakan dan merepresentasikan “cara pikir Facebook atau saya pribadi sama sekali.”

Andreessen belakangan menghapus kicauannya di Twitter dan meminta maaf.

“Saya kini menarik diri dari semua diskusi tentang perekonomian dan politik India, dan menyerahkan semua topik itu pada mereka yang lebih berwawasan dan berpengalaman!” tulis Andreessen. (Suara.com/Yuniar)

Related Posts