Terkait Kaos Bertuliskan Arab dan Bersimbol Tertentu, Ini Kata MUI Kalbar

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menanggapi beredarnya baju kaos bertuliskan lambang tertentu dan bertulisan huruf Arab, Ketua MUI Kalbar KH Hasyim Dahlan menyatakan hal ini masih perlu dia amati lebih lanjut, terkait apakah hal tersebut merupakan penistaan agama atau tidak.

Namun Hasyim menyatakan, pihaknya akan melibatkan komisi Fatwa MUI Kalbar untuk mencari dari mana baju kaos tersebut berasal.

“Saya belum melihat secara langsung bagaimana bentuk baju kaos yang ada lambang simbol tertentu dan ada tercantum tulisan Arab. Maka hal ini bila benar beredar di Kalbar, dalam waktu dekat akan kami bahas bersama Komisi Fatwa MUI Kalbar,’ papar Hasyim ketika dihubungi, Selasa (16/2).

Munurut Hasyim, dalam menyingkapi hal-hal seperti ini, pihaknya selalu berhati-hati dan tidak akan tergesa-gesa untuk memutuskan sikap.

“Ya kita selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait hal ini. Karena ini menyangkut situasi keamanan, keharmonisan antar umat dan lain sebagainya khusus di Kalbar,” ujarnya.

Namun demikian, Hasyim menambahkan, agar tidak terjadi polemik di masyarakat, disarankan agar masyarakat jangan menggunakan baik itu baju, piring,  sendal dan apapun bentuknya yang terdapat lambang ataupun simbol sesuatu agama orang lain.

“Karena ini akan menjadi masalah  dan dapat dinilai penistaan dan penodaan terhadap agama tertentu dan tentu saja akan menimbulan gejolak di masyarakat kita,”ujarnya.

Ketua MUI Kalbar ini juga mengimbau agar masyarakat yang mengedarkan, kaos ataupun hal lain yang ada simbol-simbol agama namun menyimpang, maka haruslah segera menarik atau mencabut kembali barang-barang tersebut dari pasaran.

“Masyarakat juga harus tenang dan jangan mudah terpancing dengan hal-hal seperti itu. Jangan sampai kita diobok-obok oleh orang lain hingga mengacaukan stabilitas keamanan di Kalbar ini yang sudah baik  ,” ujarnya.

Kepada pihak kepolisian, katanya lagi, diharapkan segera menindak lanjuti bila benar ada temuan yang membawa simbol-simbol agama, tapi dengan maksud melecehkan dan menodai agama lain.

“Kami bila ada temuan masyarakat, kemudian masyarakat ingin meminta MUI menanggapi. Maka prosedurnya adalah masyarakat meminta secara tertulis agar temuan seperti ini dapat segera ditinak lanjuti dan hal ini akan langsung dibahas bersama Komisi Fatwa MUI Kalbar,” pungkasnya.

(Slamet Ardiansyah/Dede)

Related Posts