Muslim Amerika Tantang Donald Trump Berdebat

South Carolina, thetanjungpuratimes.com – Sebuah kelompok advokasi Muslim berpengaruh di Amerika Serikat menantang calon kandidat presiden Partai Republik Donald Trump untuk berdebat setelah yang bersangkutan berkali-kali mengeluarkan pernyataan anti-Islam.

“Sejak Anda mengumumkan pencalonan diri Anda sebagai presiden Amerika Serikat, Anda telah mengkambinghitamkan komunitas Muslim Amerika dan kelompok minoritas lainnya yang Anda anggap sebagai penyakit bagi Amerika,” tulis Dewan Urusan Publik Muslim (MPAC) dalam sebuah surat yang ditujukan kepada tim sukses Trump.

MPAC juga mengatakan bahwa Trump dan para pendukungnya “takut terhadap segala sesuatu yang berbeda dengan mereka”.

Dalam kampanye di Charleston, South Carolina, Jumat (19/2), Trump kembali membuat pernyataan kontroversial saat berbicara tentang Jenderal John Pershing yang mengeksekusi tahanan Muslim di Filipina pada awal abad 20.

“Dia mengambil 50 peluru dan mencelupkannya ke darah babi,” ujar Trump. “Dan, dia meminta bawahannya untuk mengisi peluru dan membuat 50 orang itu berbaris, dan mereka menembak mati 49 di antaranya. Sementara kepada orang ke-50, dia mengatakan, ‘Kembalilah ke orang-orang Anda dan beritahu mereka apa yang terjadi.’ Dan, selama 25 tahun setelahnya tidak ada masalah sama sekali di sana.”

Namun, apa yang dikatakan oleh Trump itu hanyalah dongeng belaka.

Kelompok advokasi Muslim kemudian menantang Trump berdebat dengan perwakilan dari komunitas Muslim Amerika terkati isu-isu keislaman.

“Anda mengandalkan rasa takut dan kebohongan Internet untuk mengobarkan kebencian dan perpecahan di negara kita,” lanjut surat tersebut. “Oke, ada kabar buat Anda: Kami tidak akan dibully lagi. Kami tidak akan terus-menerus menjadi samsak Anda.”

Trump masih memimpin dalam pertarungan menuju Gedung Putih di Partai Republik dengan menciptakan rasa takut akan Muslim dan imigran ke tengah-tengah masyarakat kulit putih.

Trump pernah mengatakan akan melarang seluruh Muslim masuk ke AS dan mendeportasi 11 juta pekerja ilegal dari negeri Paman Sam dan membuat “badan deportasi” untuk mewujudkan keinginannya itu. Ia bahkan berencana membangun tembok pembatas di sepanjang perbatasan dengan Meksiko, demikian sebagaimana dikutip dari Press TV. (Rimanews.com/Yuniar)

Related Posts