Jarot Winarno: Sintang Dalam Keadaan Gawat Darurat Ekonomi dan Infrastruktur

Sintang, thetanjungpuratimes.com – Kabupaten Sintang dan Wilayah Timur Kalbar saat ini dalam keadaan gawat darurat dari segi ekonomi dan infrastruktur. Ekonomi masyarakat sedang lesu karena harga karet dan sawit yang rendah menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat. Ditambah lagi dengan rusaknya infrastruktur dasar yang menyebabkan biaya ekonomi tinggi.

Hal tersebut disampaikan langsung Bupati Sintang Jarot Winarno saat membuka Seminar dengan Tema Economic and Business Outlook 2016 In The Eastern Area of West Borneo, Perubahan, pertumbuhan dan tantangannya di Gedung Pancasila. Selasa (23/2).

Meskipun sudah masuk dalam kategori Gawat Darurat, namun hingga saat ini masih bisa dikendalikan berkat dorongan Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) serta banyak potensi sumber pendapatan lain yang bisa mengatasinya.

“Kami juga akan melakukan upaya untuk memulihkan ekonomi masyarakat dengan cara membuat program pembinaan, percepatan lelang serta pelaksanaan proyek pembangunan, dan mengundang para investor industri hilir,” terang Jarot Winarno.

Syamsurizal, Ketua Sub Badan Musyawarah Perbankan Daerah Wilayah Timur Kalbar menjelaskan Bank Indonesia memilih Sintang sebagai pusat kas di wilayah timur Kalbar.

“Kami menyikapi perubahan ekonomi di wilayah timur dengan seminar ini untuk memberikan solusi bagi para pelaku perbankan dan pengusaha dalam menumbuhkan perekonomian wilayah timur kalbar” terangnya.

Sementara, Wakil Ketua Badan Musyawarah Perbankan Daerah Kalbar, Sudirman HY menjelaskan komitmen seluruh perbankan untuk membantu menumbuhkan perekonomian di wilayah timur Kalbar. Misalkan dengan cara penurunan bunga bank sehingga kredit yang bertujuan usaha produktif bisa lebih tinggi.

“Seminar ini kita dukung namun kita harus juga memikirkan langkah nyata untuk menumbuhkan ekonomi. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saya agak ragu kita akan siap, karena tenaga kerja asal Thailand saat ini sudah belajar bahasa Indonesia dan mereka akan siap menjadi pekerja tukang cukur, tukang pijat dan kuli bangunan. Sementara tenaga kerja kita, apa yang sudah disiapkan” terang Sudirman HY.

Dalam seminar sehari tersebut, salah satu pembicara Bupati Sintang Periode 2005-2015 Milton Crosby menyampaikan MEA peluang, tantangan dan ancaman bagi ekonomi kerakyatan. Menurut Milton Crosby penerapan MEA mengancam peluang kerja oleh tenaga kerja asing yang lebih siap, namun hal tersebut merupakan tantangan bagi masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri.

Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Sony menjelaskan bahwa saat ini yang menentukan harga karet dunia adalah pasar lelang di Singapura padahal Singapura bukan pengasil karet. Sedangkan yang menentukan harga Cruide Palm Oil adalah pasar lelang London dan Rotterdam. Sintang tercatat sebagai kabupaten yang menyerap investasi asing tertinggi di kalbar disusul ketapang.

“Investasi pembangunan pabrik karet gelang misalkan di Kalbar sampai saat ini belum ada, padahal nilai investasinya hanya sekitar 10 juta saja dan karet gelang ini dibutuhkan setiap hari oleh masyarakat. Belum lagi kita bicara pabrik ban dan sebagainya” terang Sony.

Wakil Bupati Sintang Aksiman juga memaparkan agenda pembangunan ekonomi kerakyatan kabupaten Sintang 2016-2021. Menurutnya visi Pemerintah Kabupaten Sintang adalah Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Sintang Yang Cerdas, Sehat, Maju, Religius dan Sejahtera, yang didukung penerapan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih pada tahun 2021.

“Khusus untuk mendorong ekonomi kerakyatan, kita akan mengkoordinir dinas yang tergabung dalam persemakmuran untuk merancang dan melaksanakan program pembinaan dan pengembangan ekonomi rakyat. Serta mendata dan mengembangkan seluruh potensi yang ada disetiap kecamatan dan desa. Dengan demikian setiap kecamatan dan desa memiliki keunggulan sesuai potensinya serta memiliki daya dorong ekonomi. Untuk menumbuhkan gairah ekonomi di kabupaten sintang, Pemkab Sintang akan mendorong ekonomi kerakyatan karena memiliki basis yang kuat, menggali potensi lokal, dan mampu bertahan saat krisis” terang Askiman.

“Saya mendorong teman perbankan dan koperasi untuk membina dan membantu usaha kecil menengah dan ekonomi kerakyatan lain di Kabupaten Sintang serta memberikan bunga pinjaman yang rendah. Jika usaha kecil sudah berkembang dan berhasil, bantu mereka mempromosikan hasil usaha mereka supaya dikenal dan dibeli orang lain. Itu merupakan salah satu bentuk Coorporate Social Responsbility (CSR) Perbankan bagi masyarakat Sintang” harap Askiman.

(Lingga/Dede)

 

Related Posts