Pelajaran yang Tak Boleh Dilupakan dari Ambruknya Hotel Club Bali

Hotel Club Bali Runtuh, Suami Istri Masih Tertimbun di Kamar 145

Cianjur, thetanjungpuratimes.com – Peristiwa di Cianjur, Jawa Barat, makin menunjukkan bahwa longsor merupakan bencana yang perlu dilakukan upaya mitigasi, mengingat sejak tahun 2014 hingga 2016, kejadian ini paling mematikan.

“Korban penduduk meninggal paling banyak selama periode tersebut adalah disebabkan oleh longsor,” demikian dikatakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (9/3).

Sutopo mengatakan Jawa Barat dan Jawa Tengah merupakan daerah yang paling banyak kejadian longsor dan jumlah korban jiwanya pun tak sedikit.

Daerah di Kabupaten Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung Barat, Bandung Selatan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Garut, Purwakarta, dan daerah yang memiliki topografi perbukitan dan pegunungan adalah daerah rawan longsor, kata Sutopo.

Begitu juga di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Banjarnegara, Karanganyar, Wonogiri, Purbalingga, Banyumas, Wonosobo, Temanggung, dan Semarang.

Kondisi ini diperparah dengan makin bertambahnya penduduk yang bermukim di daerah rawan longsor sehingga seringkali kejadian longsor menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.

Untuk itu, kata Sutopo, aturan tata ruang perlu ditegakkan dan mitigasi bencana, baik structural dan non structural ditingkatkan. Jika perlu dilakukan audit tata ruang yang ada sehingga korban jiwa akibat longsor dapat diminimumkan.

Hujan deras di daerah Cianjur telah mengakibatkan longsor. Hujan deras hanyalah pemicu longsor, faktor kerentanan yaitu adanya perumahan dan bangunan di daerah rawan longsor juga turut memicu bencana.

Tercatat longsor dua hari di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada Selasa (8/3) dan hari ini, Rabu (9/3).

Dini hari tadi, tebing di dekat Villa Kota Bunga, Desa Batu Lawang, Kecamatan Cipanas, Cianjur, longsor.

“Tebing yang di dekat hotel longsor dan menimpa bagian lobi hotel (Hotel Club Bali) di lantai bawah dan merobohkan juga bangunan lantai atasnya,” kata Sutopo.

Kerusakan yang dialami Hotel Club Bali yang memiliki tiga lantai itu sangat parah. Hingga malam ini, tiga korban runtuhnya Hotel Club Bali, belum berhasil ditemukan. Korban masih tertimbun puing bangunan.

Ketiga korban masing-masing bernama Budi Tanuadi Supena (52) dan istrinya, dokter Merianawati (52). Mereka warga Bandung yang sebelumnya menginap di kamar nomor 145. Kemudian, Bun Susanto (35), warga Jakarta, yang menginap di kamar nomor 144.

Sebelumnya, sebanyak delapan korban berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, rinciannya enam luka ringan dan dua luka berat. Mereka adalah Lani (34), Angel (4,5), Ester (2,5), Kim, Mistah, dan Margaret. Korban yang luka berat yang saat ini masih dirawat di RSUD Cimacan adalah Natasya (7) dan Dewi (17).

Sebanyak 400 personil tim SAR gabungan dikerahkan untuk melakukan evakuasi korban longsor yang mengakibatkan hotel ambruk. (Suara.com/Yuniar)

Related Posts