Lestarikan Mandau Secara Turun Temurun

Mandau Dayak Kalimantan

Melawi, thetanjungpuratimes.com – Mandau merupakan senjata tradisional milik masyarakat dayak yang sudah ada sejak jaman dulu. Di Kalimantan Barat mandau tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Apalagi sampai saat ini mandau masih dilestarikan sebagian masyarakat di Kalbar. Seperti di Dusun Kecukuh, Desa Sungai Raya, Kecamatan Pinoh Utara, Kabupaten Melawi.

Dusun Kecukuh berjarak sekitar 6 km dari Ibu Kota Kabupaten Melawi. Perjalanan dapat ditempuh sekitar setengah jam, menyeberangi sungai Pinoh dengan ongkos Rp2 ribu, kemudian dilanjutkan dengan ojek dengan biaya Rp 25 ribu.

Di dusun tersebut hampir sebagian masyarakatnya merupakan pengrajin, baik mandau, ataupun ukiran lainnya, kerajinan tersebut sudah dilakukan masyarakat setempat sejak turun temurun dari nenek moyang mereka. Satu diantara pengrajin tersebut adalah Yohanes (23) atau yang akrab di sapa Paku.

Paku mengatakan, dirinya belajar membuat mandau dari ayahnya sejak dia masih berusia 11 tahun, dan saat ini Paku sudah mahir membuat sendiri mandau. Tidak hanya paku empat saudaranya yang lain juga mahir membuat mandau.

“Mandau-mandau ini merupakan hasil buatan saya,” kata Paku ditemui di Nanga Pinoh.

Paku menuturkan, mandau yang dibuatnya terdiri dari beberapa macam, mulai dari yang biasa, sedang, sampai dengan yang berkualitas baik. Proses pembuatannya pun masing-masing memiliki tingkat kesulitan yang beragam, tergantung mandau seperti apa yang akan dibuat.

“Kalau untuk mandau biasa, satu hari sudah jadi, Kalau yang sedang pembuatannya memakan waktu dua hari, dan yang tersulit hingga 2 bulan. Untuk yang tersulit ini bahan yang dipergunakan juga berbeda, baik itu besinya, sarungnya, atau motif ukirannya” jelasnya.

Harga yang ditawarkanpun pun bervariasi. Untuk kualitas biasa dijual seharga Rp150 ribu, sedangkan kualitas sedang Rp 300 ribu, sementara yang berkualitas baik mencapai Rp2 juta sampai Rp3 juta, tergantung besarnya ukuran.  (Edi/Yuniar)

Related Posts