Di Malawi Orang Dengan Albino Terancam “Punah”

New York, thetanjungpuratimes.com – Orang-orang dengan albino di Malawi beresiko mengalami “kepunahan sistemik” karena serangan tanpa henti yang dipicu takhayul, papar ahli utama PBB tentang albino, Jumat (29/4), pada kunjungan resmi pertamanya dalam peran barunya tersebut.

Setidaknya 65 kasus kekerasan terhadap orang dengan albino termasuk pembunuhan dan pemotongan telah dicatat oleh polisi di Malawi sejak akhir 2014, kata Ikponwosa Ero, pakar independen Perserikatan Bangsa Bangsa untuk hak asasi manusia dan albino.

Orang dengan albino hidup dalam bahaya di wilayah-wilayah yang mempercayai bagian tubuh mereka dapat digunakan untuk sihir dan berharga mahal. Takhayul menyebabkan banyak orang percaya anak albino membawa sial.

Di Malawi, tempat sekitar 10 ribu dari 16,5 juta penduduknya hidup dengan albono, situasi mencapai “keadaan darurat, sebuah krisis yang sangat mengganggu dalam skala besarannya”, katanya.

Beberapa warga Malawi albino yang ditemuinya membandingkan situasi mereka dengan yang spesies yang terancam punah di alam liar, kata Ero kepada Thomson Reuters Foundation dalam sebuah wawancara telepon dari Malawi.

Dia mengatakan orang dengan albino adalah “kelompok orang yang terancam mengalami kepunahan sistemik dari waktu ke waktu jika tidak ada yang dilakukan”.

“Kami berbicara tentang melindungi satwa liar namun bahkan tidak memprioritaskan upaya untuk melindungi orang dengan albino,” katanya.

Ero, yang berasal dari Nigeria dan albino, menjabat sebagai ahli independen pertama PBB mengenai isu tersebut pada Agustus.

Albino adalah kelainan bawaan yang mempengaruhi sekitar satu dari 20.000 orang di seluruh dunia. Penderita albino mengalami kekurangan pigmen di kulit, rambut dan mata mereka. Itu umum terjadi terutama di sub-Sahara Afrika.

Serangan terhadap orang-orang albino sangat brutal, terkadang bahkan korbannya dimutilasi hidup-hidup oleh penyerang yang membawa parang, Ero mengatakan dalam laporan pertamanya awal tahun ini.

Dia mengatakan ia sangat bersimpati dengan seorang anak remaja bernama Alfred dalam perjalananya ke Malawi.

Pemuda albino berusia 17 tahun itu ditemukan dalam genangan darah setahun yang lalu setelah ditikam saat tidur oleh penyerang berparang.

Dia diam saat pertemuan itu, katanya. Anak itu belum pulih dan berhenti sekolah sejak serangan itu.

“Anda bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada orang ini,” kata Ero.

Serangan terhadap orang-orang albino tahun ini juga telah dilaporkan di Burundi, Mozambik dan Zambia, menurut Under the Same Sun, sebuah badan amal Kanada.

Related Posts