Oesman: Sekolah Kepemimpinan Politik Mengkader Calon Pemimpin

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengatakan Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa patut dihargai kontribusinya dalam melakukan pengkaderan calon pemimpin bangsa.

“Sekolah yang merupakan program dari Akbar Tandjung Institute ini pantas dihargai,” kata Oesman Sapta dalam sambutannya pada pembukaan Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa, di Akbar Tandjung Institute, Jakarta, Selasa.

Hadir pada acara pembukaan tersebut antara lain, mantan ketua DPR RI Akbar Tandjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Ahmad Basarah, perwakilan partai politik, serta pemimpin organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Menurut Oesman Sapta, sekolah ini dapat menjadi ikon dalam membangun pola pengkaderan pemimpin bangsa.

Politisi senior Akbar Tandjung, kata dia, seharusnya sudah istirahat dari panggung politik, tapi dia tetap tergelitik melihat kondisi kepemimpinan bangsa Indonesia saat ini.

“Akbar berharap dapat melahirkan figur-figur pemimpin nasional maupun daerah, yang mumpuni dan berjiwa negarawann,” katanya.

Oesman mengapresiasi langkah Akbar yang membangun Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa guna memberi memberi kesempatan kepada putra bangsa yang ingin berkiprah di politik praktis maupun politisi untuk menempa kemampuan kepemimpinannya.

Pada kesempatan tersebut, Oesman mengenang ketika rumahnya dijadikan tempat pertemuan kelompok aktivis Cipayung pada masa lalu.

“Suasananya sangat akrab dan menyatu meski berbeda aliran. Inilah rasa kebangsaan yang sekarang mulai luntur,” katanya.

Sementara itu, Akbar Tandjung menjelaskan, Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa ini menjadi tempat pembelajaran politik, kepemimpinan politik, dan isu-isu politik lainnya.

“Ini merupakan sumbangsih Akbar Tandjung Institute untuk pendidikan, khususnya pendidikan politik dan demokrasi,” katanya.

Angkatan I sekolah tersebut sebanyak 23 yakni pemimpin organisasi kemahasiswaan dan pemuda, seperti dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Materi pembelajarannya, antara lain, etika politik, sistem kepartaian, politik lokal, ekonomi politik, Pancasila, dan wawasan kebangsaan. (Antara/Yuniar)

Related Posts