Pengembangan Sawit Swadaya Terganjal SDM dan Pendamping

Sintang, thetanjungpuratimes, com – Ketua Fasilitator Daerah (Fasda) Sawit Lestari Kabupaten Sintang, Subarjo mengatakan, kelapa sawit merupakan salah satu sektor perkebunan yang berkembang pesat di Kabupaten Sintang. Akan tetapi tidak seimbang dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat, untuk mengembangkan Sawit Swadaya berkelanjutan di Kabupaten Sintang.

“Berdasarkan hasil survei oleh Fasda, Sawit Lestari yang dilakukan pada 7 kecamatan di Kabupaten Sintang di akhir tahun 2014 tercatat, total luas lahan Sawit Swadaya sebesar 2.195,44 hektar yang dikelola oleh 449 petani,“ ungkap Subarjo, saat menggelar sosialisasi di salah satu hotel di Sintang, (10/5).

Ia mengatakan, pengelolaan lahan Sawit Swadaya yang cukup luas tersebut belum optimal, karena terganjal dengan ilmu pengetahuan dari masyarakat yang masih rendah serta pendamping yang belum mencukupi.

“Akibat dari kondisi tersebut, disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pendampingan yang mengakibatkan kurangnya produktivitas kebun,“ tutur Subarjo.

Di sisi lain, lanjut Subarjo, kepastian usaha dalam konteks pemasaran juga akan menjadi kendala nantinya. Pemasaran Tandan Buah Segar (TBS) ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dilakukan dengan cara menumpang dengan TBS plasma.

Dengan Tanaman Menghasilkan (TM) yang muda tersebut, rendemen menjadi kecil dan harganya juga berkurang.

“Hal ini mengakibatkan ada pihak yang dirugikan, dalam hal ini baik pihak PKS maupun petani yang ditumpangi TBSnya tersebut,” papar Ketua Fasda Sawit Lestari, Subarjo.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan(BP4KKP) Kabupaten Sintang, yang disampaikan oleh Kepala Bidang SDM dan Kelembagaan , Joko Sri Sadono, kala membuka kegiatan Training of Trainer Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit yang Baik mengatakan, Pembangunan perkebunan kelapa sawit yang tidak berkelanjutanakan berdampak buruk pada lingkungan.

Oleh karena itu, intervensi pemerintah pada proses pembangunan awal dan proses budidaya sangat penting, untuk memastikan perkebunan kelapa sawit swadaya yang dibangun di area, sesuai dengan tata ruang kabupaten dan memastikan produktivitas kebunnya tinggi.

“Tentunya tetap berwawasan lingkungan,“ katanya.

Sementara Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan, perlu dilakukan upaya pendampingan dan peningkatan kapasitas petani sawit swadaya oleh stakeholder, termasuk pemerintah. Seperti para penyuluh, pengurus organisasi petani kelapa sawit, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan lainnya dari Kabupaten Sintang.

“Pendampingan yang dilakukan bertujuan untuk menjembatani kepentingan para petani, khususnya petani swadaya, dengan lembaga-lembaga terkait, juga sebagai upaya untuk mengoptimalkan peran pemerintah dalam mengatur tata kelola yang terkait dengan perkebunan kelapasawit swadaya,” kata Albertus.

Pelatihan yang digelar selama tiga hari ini, diselenggarakan oleh WWF Indonesia berkerjasama dengan Fasda Sawit Lestari Kabupaten Sintang. Pelatihan diikuti oleh 14 orang PPL Kabupaten Sintang yang mewakili 14 kecamatan di Kabupaten Sintang dan 1 orang PPL anggota Fasda Sawit Lestari.  (Lingga/Yuniar)

Related Posts