Kemristekdikti Menilai Kekuatan Riset Perguruan Tinggi Masih Pada Bidang Kesehatan

Kemenristekdikti

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengatakan kekuatan riset perguruan tinggi (PT) di Tanah Air masih terletak di bidang kesehatan.

“Dari kajian yang dilakukan dengan melibatkan 282 perguruan tinggi, dapat disimpulkan bahwa kekuatan riset masih terletak pada bidang kesehatan dan penelitian penyakit tropis, gizi dan obat-obatan,” ujar Dimyati di Jakarta, Jumat (13/5).

Kemudian dilanjutkan pada bidang teknologi informasi dan komunikasi serta ketahanan dan keamanan pangan. Hasil pemetaan keunggulan riset PT berdasarkan total dokumen sebanyak 15.469 dengan urutan tiga besar unggulan adalah kesehatan, penyakit tropis, gizi dan obat-obatan (2.680 dokumen), teknologi informasi dan komunikasi (1.854) dan MIPA (1.469). Sedangkan 3 unggulan terendah adalah maritim (89 dokumen), pengentasan kemiskinan (60) dan pertahanan keamanan (19).

Dimyati mengatakan yang menjadi salah satu penyebab adalah dukungan yang diberikan oleh perusahaan bidang kesehatan yang mendukung penelitian kesehatan.

“Kami mendorong betul untuk penelitian-penelitian di bidang kesehatan,” tambah dia.

Dia menambahkan hasil pemetaan tersebut dapat memotret setiap unggulan dengan masing-masing parameter dapat diketahui PT mana yang paling bagus capaiannya. Sebaliknya hasil pemetaan juga dapat memotret setiap PT akan hebat di unggulan apa dan parameter apa.

Untuk tahun berikutnya, Dimyati menargetkan penelitian-penelitian yang tingkat Pemetaan Kesiapan Hasil Riset (TRL) diatas tujuh dan yang temannya sesuai dengan yang ada di Nawa Cita.

Kemristekdikti sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi berbagai persoalan yang menghambat penelitian mulai dari sistem keuangan yang membuat peneliti kurang fokus pada tugas substansi, kepastian keberlanjutan riset yang rendah, optimalisasi sarana prasarana riset, kapasitas sumber daya manusia peneliti, kelembagaan, dan juga keberpihakan peraturan perundangan terhadap para peneliti yang kurang tinggi, serta keterbatasan sumber dan lembaga pendanaan riset.

“Dengan pemetaan itu diharapkan dapat mengetahui potensi dan kapasitas atau kemampuan yang ada di masing-masing perguruan tinggi, paling tidak berdasarkan delapan parameter seperti Rancangan Induk Penelitian (RIP), Publikasi terindeks Scopus, Publikasi Internasional, Akreditasi Jurnal, buku ajar/teks, HKI, TTG, dan prototipe yang dihasilkan oleh masing-masing PT,” terang dia.

Data yang digunakan adalah data 2015 yang ada di sistem informasi manajemen penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (simlitabmas), Kemristekdikti. Satu parameter tambahan adalah jurnal terindeks Scopus dan semua data diambil pada 31 Januari 2016.

Hasil pemetaan itu menggambarkan kekuatan riset di PT, sebaran kekuatan prodi, sebaran kekuatan PT atau sebaran kekuatan masing-masing PT untuk masing-masing prodi.

(Ant/Dede)

Related Posts