Negara Asia Selatan Bersatu Dalam Gerakan Anti-Perdagangan Anak

Gerakan anti perdagangan anak

New Delhi, thetanjungpuratimes.com – Beberapa negara di Asia Selatan akan menyediakan layanan telepon bebas pulsa untuk memberantas perdagangan manusia, yang menjadi salah satu persoalan terbesar di kawasan tersebut, dan mencari ribuan anak, yang hilang setiap tahun, kata pemerintah India.

Sejumlah menteri dari India, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, Sri Lanka, Maladewa, dan Nepal pada rabu mengadakan permufakatan setelah konferensi perlindungan anak-anak digelar atas bantuan Perhimpunan Asia Selatan untuk Kerja Sama Kawasan (SAARC).

Asia Selatan, India sebagai pusatnya, mengalami peningkatan pesat dan kawasan kedua terbesar dilanda perdagangan manusia di dunia setelah Asia Timur, kata Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengurusi kejahatan dan obat (UNODC).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak India menyatakan bahwa beberapa perutusan dari delapan negara di Asia Selatan menerapkan langkah mendorong kerja sama dalam menyudahi pemanfaatan anak-anak.

“(Di situ termasuk) andil lintaskawasan dan program atas prakarsa teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari anak-anak yang hilang, berupaya membangun keseragaman layanan telepon bebas pulsa, mengembangkan strategi regional, dan standar bersama untuk mengatasi segala bentuk pelecehan seksual, eksploitasi, dan perdagangan manusia,” kata kementerian tersebut.

Sayangnya, tidak ada data akurat mengenai jumlah orang yang menjadi korban perdagangan di Asia Selatan, namun sejumlah aktivis menyatakan bahwa ribuan perempuan dan anak menjadi korban perdagangan di India dan begitu pula dengan negara tetangganya yang lebih miskin, Nepal dan Bangladesh.

Banyak yang dijual dalam praktik kawin paksa atau terikat menjadi tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga kelas menengah, di toko-toko kecil, dan hotel atau terkekang di rumah bordil sebagai tempat berulang kalinya mereka diperkosa.

Wisata Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh kepada sejumlah delegasi mengatakan bahwa menekan angka perdagangan manusia merupakan tantangan besar bagi semua negara, namun yang bisa dilakukan adalah membagikan informasi dan bekerja yang terbaik dalam mendapatkan solusi di kawasan.

“Dengan meningkatnya akses terhadap tekonologi informasi dan mengubah perekonomian global, ancaman baru terhadap anak-anak mengemuka – wisata seksual, pornografi anak-anak, antara lain ancaman situs online terhadap anak-anak,” kata Singh.

“Untuk mengatasi tantangan tersebut secara komperehensif di negara-negara SAARC, kami mendapatkan seluruh manfaat dari kerja sama penegakan hukum di kawasan dan memperkuat mekanisme pembagian informasi, pengalaman, keahlian, dan tindak-tindakan yang bagus,” katanya.

Di India, data pemerintah menunjukkan bahwa 73.549 anak hilang pada 2014, sebanyak 31.711 tidak ditemukan. Bandingkan dengan hilangnya 90.654 anak pada 2014, sebanyak 34.711 tidak ditemukan.

India selama beberapa tahun telah mengimplementasikan langkah-langkah perlindungan terhadap anak-anak, seperti saluran nasional bebas pulsa dengan mengakses Childline.

India juga meluncurkan program portal web pihak berwenang Track Child http://trackthemissingchild.gov.in/ untuk menyebarkan informasi atas hilangnya anak-anak dan portal umum “Lost and Found”.

Para orang tua dapat mendaftarkan secara detail atas hilangnya anak-anak dan warga masyarakat dapat melaporkan penemuannya. (Ant/Yuniar)

Related Posts