234 Sosiolog Hadiri Konferensi Nasional Sosiologi di Padang

Padang, thetanjungpuratimes.com – Sebanyak 234 sosiolog se-Indonesia menghadiri kegiatan Konferensi Nasional Sosiologi V yang diadakan Universitas Andalas (Unand) di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

“Dari jumlah tersebut 174 di antaranya berasal dari universitas luar Sumatera,” kata Ketua Panitia Konferensi Nasional Sosiologi V, Jendrius di Padang, Rabu (18/5).

Ia menyampaikan kegiatan yang diadakan pada 18 hingga 19 Mei 2016 tersebut bertemakan gerakan sosial dan kebangkitan bangsa.

Dalam konferensi itu hadir pembicara utama Prof Anton Lucas dari Hinders University, Australia dengan tema diskusi gerakan transformasi agraria pasca orde baru.

Selain itu hadir pula dua orang panelis yakni pakar radikalisasi sekaligus Ketua DPP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir yang membahas radikalisasi gerakan keagamaan di Indonesia dan Prof Afrizal dari Unand dengan pembahasan lingkungan di Indonesia antara alam dan masyarakat.

Rektor Unand, Tafdil Husni menyampaikan kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah sosial di Indonesia.

“Negara ini berubah karena adanya gerakan sosiologi. Hendaknya masalah sosial yang masih ada sekarang juga dapat teratasi,” katanya.

Menurutnya, masalah sosial yang sangat fundamental dan hingga saat ini belum dapat terselesaikan ialah terkait kemiskinan, rendahnya edukasi penduduk, pengangguran serta tingkat pertumbuhan ekonomi.

“Sejak orde baru, malah muncul masalah baru seperti korupsi, narkoba dan pelecehan seksual pada anak di bawah umur,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan konferensi nasional sosiologi itu mampu memberi pemikiran yang mengatasi masalah sosial bangsa.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) Najib Asca menyampaikan gerakan sosial dari sudut pandang sosiologi itu sangat penting sejak beberapa dekade terakhir.

Hal itu disebabkan gerakan sosial selalu kaya argumentasi dan pemikiran ke arah perubahan yang lebih baik.

“Di dalamnya terdapat pula gerakan sosial agama, identitas etnik dan sebagainya,” ujarnya.

(Ant/Dede)

Related Posts