Para Biksu Doa Matahari Terbit di Borobudur

Magelang, thetanjungpuratimes.com – Para biksu dan umat Buddha peserta Borobudur International Buddhist Conference (BIBC) berasal dari tujuh negara melakukan ritual doa menjelang matahari terbit di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Jumat (20/5).

Ritual doa yang diikuti sekitar 60 biksu dan umat Buddha tersebut berlangsung mulai sekitar pukul 05.00 hingga 06.00 WIB di pelataran timur zona I Candi Borobudur.

Setiap biksu dan umat memegang bunga sedap malam dalam doa yang antara lain berupa pembacaan sutra dan parita dipimpin Kepala Sangha Theravada Indonesia yang juga Kepala Wihara Mendut Kabupaten Magelang Biksu Sri Pannyavaro Mahathera.

Kegiatan ritual doa mereka pada pagi itu, terkesan membuat suasana tenang Candi Borobudur yang juga warisan budaya dunia dibangun sekitar abad ke-8 saat pemerintahan Dinasti Syailendra tersebut.

Pada kesempatan itu pula, ratusan wisatawan mancanegara dan nusantara, sejak pagi gelap sudah berada di sekitar stupa di puncak Candi Borobudur untuk menikmati suasana matahari terbit.

Bante Pannyavaro menyebut ritual doa menjelang matahari terbit sudah menjadi tradisi umat Buddha.

“Tiap pagi sudah menjadi kebiasaan kami untuk melakukan doa, membaca sutra, membaca parita,” ujarnya setelah memimpin ritual doa tersebut.

Ia menjelaskan tentang tujuan kegiatan kerohanian dalam tradisi umat Buddha itu yang untuk memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, tidak terkecuali.

“Dengan harapan tentu semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari segala macam kesulitan hidup, dan mencapai kebahagiaan,” kata Pannyavaro yang juga Vice President of World Buddhist Council itu.

Setelah melakukan ritual doa menjelang matahari terbit di Candi Borobudur, mereka melanjutkan perjalanan wisata rohani antara lain ke Candi Mendut, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Kalasan.

Kegiatan BIBC yang diselenggarakan pertama kali oleh Kementerian Pariwisata dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko selama dua hari (19-20 Mei 2016) itu, juga ditandai dengan seminar bertema “Borobudur The Mandala of Enlightment and World Peace”.

Narasumber seminar adalah Genshe Tenzin Zopa (A Nepalese Tibetan Buddhist, Foundation for the Preservation of the Mahayana Tradition/FPMT Touring Teacher Geshe), Biksu Sri Pannyavaro (Kepala Wihara Mendut), Biksu Bhadraruci Sthavira (Sekretaris Jenderal Konferensi Agung Sangha Indonesia), dan Noerhadi Magetsari (Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia).

Peserta konferensi berasal dari Thailand, Malaysia, Singapura, Laos, Vietnam, Myanmar, dan Indonesia.

“Kami mengapresiasi acara yang diselenggarakan PT TWCBPRB dan Kementerian Pariwisata ini, sehingga Borobudur tidak hanya sekadar bangunan tua yang bersejarah, tetapi juga memberi manfaat moral dan spiritual kepada siapa saja. Dan itulah yang sekarang ini dibutuhkan masyarakat kita dan masyarakat dunia,” kata Sri Pannyavaro.

(Ant/Dede)

Related Posts