Hiasan Mushaf Dituntut Perindah Hiasan

Kubu Raya, thetanjungpuratimes.com – Sebanyak 28 peserta Musabaqah Khattil Qur’an cabang Hiasan Mushaf, Rabu (25/5), berlomba-lomba untuk memperindah hiasan, berimajinasi dan menulis kaedah Khat agar menjadi yang terbaik.

Seluruh Kafilah dari 14 kabupaten/kota menurunkan peserta MTQ guna mengikut  Cabang Khattil Qur’an golongan Hiasan Mus’haf.

Dimana 28 peserta yang terdiri dari 14 pria dan 14 wanita ini berusaha menampilkan tulisan Arab indah mereka dan diwarnai dengan berbagai hiasan Mushaf guna memberikan yang terbaik untuk Kafilah mereka masing-masing.

Ketua Dewan Hakim Cabang Khattil Qur’an (Kaligrafi), K.H.Tusi Rana Rasyid mengatakan, adapun penilaian yang diberikan kepada peserta Cabang Khattil Qur’an golongan Hiasan Mushaf meliputi kekayaan Imajinasi, keindahan hiasan, kebersihan dan kerapian serta kaedah Khat yang telah ditentukan.

“Untuk penilaian tulisan, kami akan melihat dari kaedah penulisan Khat Naskhi yang merupakan tulisan yang sering digunakan untuk menulis di dalam Al-Qur’an,” katanya.

Selain itu, katanya untuk keindahan hiasan, pihaknya selaku dewan hakim menilai dari keindahan warna dan keserasian hiasan serta imajinasi para peserta dalam menentukan suatu hiasan yang mereka berikan untuk melengkapi tulisan.

Berdasarkan pantauannya, kata Tusi Rana, hampir seluruh peserta cabang Khattil Qur’an yang berlomba sudah memiliki pengalaman dalam segi hiasan. Hal ini terlihat ketika para peserta memulai berimajinasi untuk menentukan hiasan Mushaf.

“Saat ini persaingan para Khattot (orang yang mahir dalam seni tulisan Arab) snagat ketat di seluruh Indonesia. Sehingga untuk berbicara secara Nasional, para peserta Cabang Khattil Qur’an ini sesungguhnya sudah cukup memadai untuk ikut bersaing di tingkat Nasional,” sebutnya.

Dirinya melihat, jika karya tulisan para peserta sudah sangat baik dan bagus, tentunya hakim berusaha mencari kesalahan-kesalahan yang nantinya dihitung sebagai penilaian.

“Adapun kesalahan yang nantinya dicari mulai dari kesahalan Jali, kaedah penulisan khat, dan tanda baca,” jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan pengalamannya sebagai Dewan Hakim Cabang Khattil Qur’an, hampir seluruh peserta yang mengikuti Cabang Khattil Qur’an ini berpendidikan di dunia pesentren, sehingga wajar saja seluruh Kafilah banyak yang mengambil para peserta ini dari pondok pesantren yang ada di Kalimantan Barat.  (Faisal/Yuniar)

Related Posts