Tiga WNA Kerja di Perkebunan Kelapa Sawit Kapuas Hulu

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Tiga Warga Negara Asing (WNA) terdata bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kapuas Hulu. Masing-masing bekerja di tempat terpisah yakni, perusahaan sawit di Badau, Empanang dan Silat Hilir. Dari data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi  (Dinsosnakertrans) Kapuas Hulu menyatakan, keseluruhan tenaga asing ini bekerja secara legal.

“Mereka bekerja secara resmi, karena perusahaan di tempat mereka bekerja sudah mengurus surat Izin Menggunakan Tenaga Asing (IMTA),” kata Kepala Bidang Tenaga Kerja, Dinsosnakertrans Kapuas Hulu, Subandi, Jumat (27/5).

Subandi memaparkan, dua WNA itu merupakan warga Malyasia, sementara satu orang lainnya merupakan warga Philipina. Untuk itu, pihaknya akan selalu mengawasi kegiatan WNA tersebut.

“Kami akan tetap mengawasinya, IMTA pasti dicek terus,” tuturnya.

Menurutnya, Kapuas Hulu memiliki lebih dari seratus perusahaan formal maun informal. Dari jumlah tersebut, ada 50 perusahaan besar yang intens diawasi tenaga kerjanya.

“Hingga hari ini, baru 3 WNA yang diketahui bekerja di Kapuas Hulu,” ucapnya.

Subandi menegaskan, bagi perusahaan yang ingin mempekerjakan warga asing di Kapuas Hulu harus memiliki IMTA. Dan untuk mengurusnya bisa langsung ke Disnakertransos Kapuas Hulu.

“Kami siap membantu perusahaan tersebut dalam kepengurusan IMTAnya. Kami tidak pernah menghambat perusahaan, sepanjang memenuhi standar prosedur yang ada,”  tegasnya.

Perusahaan jangan sampai lupa untuk melaporkan masa kerja WNA, atau sengaja memperkerjakannya melewati batas waktu kontrak. Apalagi memperkerjakan WNA dengan diam-diam.

“Jika perusahaan tak melaporkan tenaga asingnya, maka kami akan dideportasi WNA yang bersangkutan,” tegas Subandi.

Menurutnya, perusahaan sawit yang menggunakan tenaga kerja asing, karena memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih, yang tidak dimiliki warga lokal. Dari itu masyarakat tidak boleh anti terhadap WNA yang ingin bekerja di Kapuas Hulu.

“Akan tetapi perusahaan juga harus memberdayakan WNA tersebut untuk mengajar warga lokal, sehingga lama-kelamaan warga setempat juga memiliki kemampuan yang sama, jadi tidak selalu bergantung pada WNA,” pungkasnya. (Yohanes/Yuniar)

Related Posts