63 Anak Putus Sekolah Kembali ke Dunia Pendidikan

Mempawah, thetanjungpuratimes.com – Sebanyak 63 pekerja anak putus sekolah di Kabupaten Mempawah kembali ke dunia pendidikan. Difasilitasi Pemerintah Kabupaten Mempawah, melalui satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, ke-63 anak dari tujuh kecamatan, tuntas mendapat pendampingan di tiga shelter selama 21 hari, mulai 8-28 Mei 2016. Selanjutnya semua anak didaftarkan untuk kembali bersekolah.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mempawah, Burhan menerangkan, kegiatan pendampingan pengurangan pekerja anak (PPA) dilakukan untuk mendukung program keluarga harapan (PKH).

Melalui PPA-PKH, anak dimotivasi, dipersiapkan, dan ditelusuri minatnya untuk kembali melanjutkan pendidikan baik formal, kesetaraan, maupun keterampilan.

“Pendampingan PPA-PKH ini bertujuan mengembalikan anak ke dunia pendidikan dengan cara intervensi atau mengambil anak yang berasal dari rumah tangga sangat miskin dan tidak berada dalam sistem persekolahan,” tuturnya.

Burhan mengungkapkan, pendampingan dilakukan setiap hari. Selama 24 jam, anak peserta  PPA-PKH berada dalam pengawasan pendamping shelter. Satu shelter terdiri atas 21 orang peserta dengan tiga pendamping.

“Satu orang (pendamping) mendampingi tujuh anak,” ujarnya.

Ia menerangkan, ketiga shelter yaitu Shelter Mempawah menampung anak-anak dari Kecamatan Mempawah Hilir, Mempawah Timur, dan Sungai Kunyit. Shelter Sungai Pinyuh menampung peserta dari Kecamatan Sungai Pinyuh, Anjongan, dan Toho. Dan Shelter Siantan berisi anak-anak dari Desa Wajok Hulu, Wajok Hilir, Sungai Nipah, dan Jungkat di Kecamatan Siantan.

“Kepada mereka, kita berikan sejumlah materi antara lai, materi akademik, pendalaman materi, prakarya dan vokasional, materi non-akademis, dan materi dari instansi terkait seperti Dinas Sosnakertrans, Dinas Dikpora, Dinas Kesehatan, KPAID, Kepolisian, dan Kementerian Agama,” paparnya.

Dia menjelaskan, peserta PPA-PKH adalah anak-anak yang bekerja dan tidak/putus sekolah. Rentang usia mulai 9-17 tahun dengan prioritas usia 13-17 tahun. Para peserta, menurutnya, diambil dari basis data terpadu strata I (RTSM/Rumah Tangga Sangat Miskin).

“Ke-63 anak ini akan melanjutkan kembali pendidikannya di jenjang SMP (9 anak), SMA (19 anak), Paket A (18 anak), Paket B (14 anak), Paket C (3 anak),” pungkasnya. (Hamzah/Yuniar)

Related Posts