Orang Tua Siswa Gunting Rambut Guru

Kubu Raya, thetanjungpuratimes.com – Jamilah, seorang guru di SDN 20, Desa Radak Baru, Kecamatan Terentang, Kubu Raya digunting rambutnya secara paksa oleh orang tua siswa. Hal ini buntut dari belasan siswa yang dipotong rambutnya oleh Jamilah.

Kepala SDN 20 Desa Radak Baru, Anwar menyebutkan, Kamis (19/5) sekitar pukul 08:00 WIB, Jamilah menggunting rambut 12 siswa kelas 5 yang sebelumnya sudah diperingatkan, agar segera menggunting rambutnya agar rapi.

Adapun 12 siswa yang rambutnya digunting Jamilah adalah, Barep Jatmiko, Pandu Rustono, Abdul Malik Ibrahim, Rudi, Joni Irawan, Nur Rofik Iskandar, Muhammad Toha, Ardhi Fajar Sugianto, Sandhika Fathir Choirul Bani, Gangsar Zul Hidayat, Muhammad Bilal, serta Zihan Zakaria.

Kemudian, pada Kamis sore, dua orang tua dari siswa yaitu Suparno (orang tua dari Pandu Rustono) dan Eko Sutarto (orang tua dari Barep Jatmiko) mendatangi Jamilah yang sedang duduk bersantai di teras rumahnya, dan kebetulan pada saat itu Jamilah tidak mengenakan jilbab.

“Kedua orang tua murid itu langsung menghampiri Jamilah.  Saat itu, Suparno sempat bertanya kepada Eko Sutarto, apa ada membawa gunting. Kemudian dijawab Eko Sutarto bahwa dirinya ada membawa gunting, selanjutnya rambut Jamilah pada bagian belakang langsung digunting oleh orang tua siswa,” katanya kepada wartawan, Selasa (31/5).

Murtiyah Ningrum, seorang bidan desa yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan Jamilah langsung keluar dari dalam rumahnya, dan berteriak histeris. Sedangkan Jamilah hanya bisa terdiam seolah-olah tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya.

“Usai menggunting rambut Jamilah, kedua orang tua itu langsung meninggalkan lokasi. Sedangkan barang bukti yaitu gunting dan rambut Jamilah sudah diamankan Polsek Terentang untuk di tindaklanjuti,” sebutnya.

Selama ini, katanya, para siswa dalam kesehariannya biasa-biasa saja, layaknya anak-anak. Dirinya sebagai kepala sekolah sudah melakukan penyelesaian masalah itu, dengan mempertemukan antara korban dan pelaku dihadapan kepala desa dan perangkatnya. Namun pada saat ini, kondisi Jamilah masih shock atas kejadian tersebut, dan berbicara juga sambil menangis, sehingga kegiatan itu tidak dilanjutkan.

“Jamilah juga meminta kepada saya, bahwa kasus ini harus dilaporkan ke polisi, karena dirinya merasa sebagai korban. Kemudian pada hari Selasa, Jamilah didampingi beberapa guru serta sekretaris PGRI kecamatan, langsung melaporkan kejadian itu ke pihak Polsek Terentang,” pungkasnya. (Faisal)

Related Posts