Pemukulan Kentongan Buka Tong Tong Fair 2016

Zeynita Gibbons London, thetanjungpuratimes.com – Dubes RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja bersama Wakil Wali Kota Den Haag Rabin Baldewsingh memukul kentongan sebagai tanda dibukanya Tong Tong Fair (TTF) ke-58 yang berlangsung di lapangan Malieveld Den Haag, Selasa.

Festival Tong Tong yang berlangsung mulai tanggal 31 Mei hingga 5 Juni itu menampilkan berbagai tradisi budaya, informasi, pengetahuan dan produk mengenai Indonesia dan beberapa budaya/negara lainnya termasuk Vietnam, China, Thailand, Malaysia, Polinesia, India dan lainnya, demikian keterangan Sekretaris Satu Pensosbud KBRI Den Haag Danang Waskito kepada Antara London, Selasa.

Acara pembukaan TTF 2016 dilakukan di Hospitality Lounge Indonesie Paviljoen (Paviliun Indonesia) dan dihadiri lebih dari 150 tamu undangan dari berbagai latar belakang antara lain Dubes dan perwakilan diplomatik asing di Belanda, perwakilan Pemerintah Daerah dan Kementerian Belanda, budayawan, expatriat, media dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Rabin Baldewsingh menyampaikan kegiatan TTF sebagai bentuk riil pengakuan dan penghormatan multikulturalisme di Belanda.

“Perbedaan yang ada di dalam masyarakat, tidak saja perlu dipelihara dan dihormati namun juga perlu dirayakan,: ujarnya mengacu pada tema TTF 2016 “A Celebration of Diversity” (Perayaan Keberagaman).

Sementara itu Dubes Wesaka Puja menyampaikan apresiasi penyelenggaraan TTF 2016 sebagai bentuk perayaan multikulturalisme dalam semangat kebersamaan.

“Di Indonesia, kentongan dipukul untuk mengumpulkan warga masyarakat dan untuk menyampaikan suatu informasi. Dan falsafah itu juga ada pada Tong Tong Fair,” ujarnya.

Ia menambahkan multikulturalisme membuat dunia ini lebih indah, lebih lengkap dan lebih berarti bagi kehidupan manusia.

Dalam kegiatan TTF 2016, nuansa Indonesia terasa sangat kental.

Selain nama Indonesia dijadikan sebagai salah satu nama area yakni Indonesie Paviljoen, area dimana seluruh produk dan jasa yang dijual dan ditawarkan berasal dari Indonesia, nuansa Indonesia terlihat di sebagian besar ornamen dan jenis kegiatan: Indische tuin (taman Indonesia), Bengkel (workshop budaya/kesenian Indonesia).

Berbagai penampilan kesenian dan budaya Indonesia juga ditampilkan di Tong Tong Podium seperti musik keroncong, pencak silat, gamelan Jawa, Indopop dan tari-tarian tradisional Indonesia serta tentunya berbagai makanan Indonesia dan demo masak makanan Indonesia di area Eetwijk.

Kementerian Pariwisata RI berpartisipasi pada TTF 2016 untuk mempromosikan pariwisata Indonesia dengan mengikutsertakan delapan agen wisata yakni Jewel Indonesia, Antar Anda, Ravelino, Adventure Sumatera, PT Tri Jaya Wisata Permai, Dewi Wisata, 777 Maluku, Flabmor serta delegasi pariwisata dan kebudayaan dari dua Pemerintah Provinsi TK I yaitu Aceh dan Sumatera Barat.

Para agen wisata tersebut menjual berbagai paket wisata menarik ke berbagai tujuan wisata di Indonesia dengan fokus pada produk-produk wisata alam (laut, ekologi, petualangan), budaya (sejarah, religi, kuliner, urban dan country side tourism) serta “man made tourism” (MICE, olahraga dan integrated resort tourism).

Pada area Indonesisch Paviljoen tercatat lebih dari 50 anjungan yang menjual berbagai barang dan produk budaya Indonesia misalnya batik dan pakaian Indonesia, wayang kulit dan golek, souvenir dan kerajinan khas Indonesia, maupun barang keperluan sehari-hari dari sapu lidi, jamu, obat-obatan, hingga makanan kecil serta bumbu-bumbu masakan Indonesia.

Berbagai produk serta makanan khas Indonesia juga banyak dijual di area lainnya di TTF 2016 (Grand Pasar dan Eetwijk) bersama dengan produk dan makanan khas negara-negara lainnya.

TTF adalah salah satu festival tertua dan festival akbar di Belanda yang menjadi kegiatan tahunan yang dimulai sejak tahun 1959 dan diselenggarakan Yayasan Tong Tong Fair bekerjasama dengan berbagai pihak lainnya.

TTF dulunya disebut sebagai Pasar Malam Besar namun pada tahun 2009 nama tersebut diubah menjadi Tong Tong Fair. (Ant/Yuniar)

Related Posts