NU Pontianak Akui Keberadaan Jamiyyatul Islamiyah

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PC NU) Kota Pontianak, Ahmad Faruki menegaskan, NU mengakui keberadaan majelis Jamiyyatul Islamiyah di Kalimantan Barat.

“Saya juga belum mengetahui jika majelis itu pernah dianggap sesat oleh MUI. Namun kalau sekarang menurut saya tidak ada ajarannya yang mengarah yaitu menyimpang dari Alquran dan hadis,” ujar dia, ketika ditemui, Selasa (14/6).

Namun, kata Faruki, masyarakat tidak boleh menganggap suatu ajaran itu menyimpang, karena ada lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang lebih berwenang dengan mengeluarkan fatwa suatu aliran itu sesat atau tidak.

Faruki mengaku belum ada laporan masyarakat yang menyatakan jika Jamiyyatul Islamiyah tersebut menyimpang, bahkan, kata dia, hingga menyebabkan masyarakat menjadi resah dan terganggu dengan keberadaannya.

“Bahkan dulu sempat ada tokoh-tokoh intelektual yang menjadi pengurus Jamiyyatul  Islamiyah di Pontianak,” tandasnya.

Tahun 1981, Kejaksaan Tinggi Sumbar mengeluarkan keputusan yang menyatakan ajaran JI sesat dan menyesatkan, dimana dalam ajaran JI bahwa manusia itu terdiri dari badan dan roh. Badan tersebut dapat mati dan bersifat kafir. Selain itu, jasad Nabi Muhammad SAW setelah wafat dimakamkan di Madinah.

Kemudian, roh Muhammad dianggap sama dengan roh Allah dan tetap hidup di Mekkah. Setelah kurun ke-14, roh Rasul digantikan dengan Buya Kiai Haji Abdul Karim Jamak. Bagi jamaah JI, Abdul Karim Jamak pada hakekatnya Rasul Allah, Muhammad akhir zaman dan Imam Mahdi.

Namun Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin berpendapat, Jamiyyatul Islamiyah yang pernah divonis MUI menjadi aliran sesat kini perlu dikaji ulang.

(Faisal/Dede)

Related Posts