Warga Menukung Minta Dinas Terkait Tangkap Orangutan di Permukiman Mereka

Melawi, thetanjungpuratimes.com – Seekor Orangutan mengobrak abrik pondok ladang warga di daerah Sungai Dungan I, Desa Laman Mumbung, Kecamatan Menukung.

Orangutan yang membuat warga ketakutan itu diduga dilepaskan oleh lembaga Yayasan Inisiari Alam Rehabilitasi (Yiari) bersama pihak kehutanan, taman nasional dan anggota DPRD di Taman Nasional.

“Kejadian itu terjadi pada hari Senin (25/7) kemarin, orangutan itu muncul ke pondok ladang warga, yang tidak jauh dari permukiman penduduk,” kata Iting, seorang perangkat Desa Laman Mumbung.

Lebih lanjut Iting menceritakan ciri-ciri orangutan itu berbulu coklat tua berbadan besar itu memiliki kalung. Jadi dipastikan orangutan itu lepas dari tempat pemeliharaannya atau kandangnya.

“Kami serba salah, kalau sempat orangutan itu mati di daerah kami, kami yang kena masalah. Masih untung hanya memakan barang yang ada di pondok ladang, coba kalau sampai mengejar warga, bisa panjang ceritanya,” katanya.

Iting mengatakan, desa Laman Mumbung berbatasan lansung dengan Taman Nasional. Karena itu, tambahnya,  tidak salah jika Ia memprediksi bahwa orangutan itu merupakan orangutan yang dilepas lembaga Yiari.

“Kami minta kepada dinas kehutanan untuk memfasilitasi masalah ini. Kami minta segera muingkin menangkap dan memindahkan orangutan tersebut, soalnya warga banyak yang takut, karena tidak pernah melihat orang utan yang sebesar itu berada di utan,” paparnya.

Kedatangan orangutan yang mengobrak abrik pondok ladang warga membuat para ibu-ibu yang biasanya pergi ke ladang tidak berani pergi ke ladang.

“Warga takut. Meskipun hingga saat ini baru satu orangutan yang berkeliaran, tapi wujudnya yang besar itu menakutkan ibu-ibu,” paparnya.

Sementara, Tantyo Bangun, selaku  Ketua Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (Yiari) yang dihubungi melalui via seluler mengatakan, pihaknya akan menurunkan tim ke lapangan.

“Sebab orangutan yang dilepas oleh kami tidak menggunakan kalung. Dia hanya diberikan chip khusus yang ditanam di tubuh. Kemarin memang ada info turun ke ke camp, tapi belum ada info kalau mereka masuk ke permukiman atau ladang masyarakat,” jelas Tantyo, Selasa (26/7).

Bisa jadi, lanjutnya, yang ditemukan masyarakat itu orangutan liar lain atau peliharaan. Namun begitu, pihak Yiari akan menerjunkan tim untuk evakuasi. Kalau ini orangutan liar yang bukan dilepas Yiari, nantinya akan dilakukan rehabilitasi terlebih dahulu.

“Tak bisa langsung dilepas di taman nasional karena takut akan mengganggu orang utan lainnya. Sampai sekarang orangutan yang dilepas Yiari selalu diawasi dua orang yang ditugaskan khusus langsung di Taman Nasional,” jelasnya.

Pengawasan yang dilakukan terhadap orangutan yang dilepas pihak Yiari sangat diawasi ketat. Sejak orangutan bangun tidur, sampai membuat sarang.

“Bahkan pergerakannya juga dipantau dan diikuti oleh petugas di lapangan,” bebernya.

Sementara pihak Taman Nasional, selaku pihak yang mengikuti pelepasan orangutan di Tanam Nasional mengaku baru mengetahui informasi tersebut. Seperti yang disampaikan Andi, selaku Kepala Urusan Perlindungan Taman Nasional. Ia mengaku, belum ada laporan, dan terus terang baru dapat info teman-teman.

“Orangutan yang dilepaskan bersama pihak Yiari itu dilakukan di Taman nasional di daerah Juwoi. Namun secara logika, jika berkeliaran hingga ke desa Laman Mumbung yang memakan waktu cukup lama dan panjang secara logika apakah bisa sampai sana. Itu perlu kami kordinasikan dengan pihak Yiari. Akan saya sampaikan ke pimpinan,” pungkasnya.

(Edi/Dd)

Related Posts