Kapuas Hulu Alih Manajemen Persampahan ke “Semi Sanatary Landfill”

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang  Kabupaten Kapuas Hulu mulai merancang skema baru untuk kebersihan kota Putussibau.

Kalau sebelumnya sistem open dumping (menumpukan sampah di satu tempat) perlahan akan dialihkan ke Semi Sanitary Landfill (menumpukan sampah pada satu lubang tanah dan menimbunnya).

Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan, Syarif Usmardan mengatakan, perubahan sistem persampahan tersebut mengikuti aturan Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang persampahan, dimana open dumping sudah tidak lagi diperbolehkan. Oleh sebab itu, kota Putussibau yang masih pakai sistem open dumping harus dirubah.

“Jadi saat ini kami sedang mempersiapkan peralihan manajemen persampahan tersebut,” tutur Mardan di ruang kerjanya, Jumat (5/8)

Salah satu yang dipersiapkan adalah lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Luas lahan yang dibutuhkan minimal 2 Hektare.

“Sekarang kami masih usahakan pengadaan tanah di TPA, karena kami juga disesak Pemerintah Pusat. Minimal tanah itu 2 Hektare hingga 10 Hektare. Kami sudah rapat dengan Pemprov kalbar dan memang untuk bangunan pelengkap di TPA itu ada dana dari APBN, rancangan pun sudah ada, sementara dari APBD menyediakan lahannya,” terangnya.

Untuk itu, Mardan berharap pengadaan tanah dari kabupaten sudah ada di tahun depan. Renca pembangunannya di kecamatan Kalis sebab disana ada tanah Pemda Kapuas Hulu sekitar 100 HA, untuk bumi perkemahan.

“Nah skema persampahan di sana itu ada juga kaitan dengan pembinaan pramuka. Kita jadikan TPA itu bukan tempat kumuh, tapi tempat pembelajaran seperti di kota Malang. Dari pemerintah pusat sendiri sudah skema TPA seperti ini, Kapuas Hulu tinggal mengikuti,” ujarnya. “Hanya saja tanah bumi perkemahan itu masih SKT. Masih diukur dulu, memetakan 100 Hekatare itu,” timpal Mardan.

Ke depannya, menurut Mardan, sebelum sampah ditumpuk dan ditimbun tanah ada proses pemisahan, jenis sampah dan jenis limbah bahan berbahaya dan beracun (b3). Proses pemusnahan b3 ini ada sendiri. Untuk sampah akan dipilah lagi menjadi dua, organik dan non organik.

“Sampah organik kita terapkan cara kompos, sedangkan non organik ini perlu tiga penanganan yakni mengurangi pemakaiannya, mendaur ulangnya serta memakainya kembali. non organik perlu tiga prinsip itu karena tidak bisa teruarikan oleh tanah, plastik-plastik itu tidak akan bisa teruari walau sudah 100 tahun,” tutupnya.

(yohanes/dd)

 

Related Posts