Diduga Terinfeksi Rabies, Warga Kapuas Hulu Kritis

Dari 1.068 Korban Rabies, 19 Orangnya Tewas

Sintang, thetanjungpuratimes.com – Warga Kabupaten Kapuas Hulu berinisial BA (50) mengalami kritis sehingga harus dirujuk dari RSUD Kapuas Hulu ke RSUD Sintang akibat terpapar virus rabies.

“Berdasarkan gejala, pasien rujukan dari Kapuas Hulu tersebut diduga terinfeksi rabies,” kata, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade M Djonk Sintang, dr Rosa Trivina, Sabtu (6/8),

Kata Rosa, pasien mulai dirawat inap di rumah sakit sejak 31 Juli yang lalu. Awal masuk rumah sakit, pasien tersebut tidak diketahui pernah tergigit anjing, karena pihak dokter yang menanginya tidak diberi tahu.

“Hasil diagnosa pertama, pasien mengalami hipertensi. Kemudian pasien diberi obat dan di sarankan untuk rawat jalan saja, karenakan kalau hipertensi dikasi obat saja, pasein, akan berangsur membaik. Dan awalnya pihak keluarga dan pasien pun tak mengatakan pernah digigit anjing,”katanya.

lanjut dia, saat di sarankan oleh dokter mengenai rawat jalan tersebut, kemudian keluarga pasien keberatan, karena kondisi pasien melemah, bahkan tak bisa menelan.

“Keluarganya bilang, bisa kah dirawat jalan, soalnya pasen ini keadaanya melemah, dan tak bisa menelan. Kemudian setelah ditanya-tanya riwayat sebelumnya, dari situ, pasien baru mengaku pernah digigit ajing. Kejadian gigitan itu, kata si pasien  terjadi sekitar tanggal 15 Juli yang lalu,” kata Rosa.

Setelah mengetahui pasien rujukan itu pernah tergigit anjing, maka pihak rumah sakit  langsung melakukan diagnosa lebih dalam.

“Dari ciri-ciri, dan hasil diagnosa sementara, pasien tersebut diduga tertular rabies. Karena orang yang terinfeksi rabies akibat gigitan binatang, biasanya mengalami, kesulitan menelan, berliur, demam tinggi, lemah, dan takut air. Dan ciri-ciri itu lah yang dialami pasien tersebut. Dan sudah kita coba teteskan air sedikit di kepalanya, pasien itu terlihat takut. Apalagi riwayatnya, pasien ini memang pernah digigit anjing,” katanya.

Untuk penanganan pasien itu sendiri saat ini, pihak rumah sakit sudah memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR).

“Namun, kondisi pasien masih kritis, dan masih dirawat di ruang ICU,”katanya.

Selain pemberian VAR, pasien akan diberikan terapi oleh dokter yang menanganinya serta memberikan perawatan yang intensif.

Rosa mengaku, keterbatasan alat memang menjadi kendala dalam melakukan diagnosa dalam penularan rabies terhadap namusia. Sehingga untuk mengetahui pasien tersebut tertular rabies, hanya bisa dilihat melalui ciri-ciri dan riwayat gigitan itu sendiri.

Ia juga menuturkan bahwa manusia yang tergigit binatang rabies, memang tidak seketika itu langsung menyerang syaraf manusia.

“itu ada fasenya. Jadi akibatnya tidak seketika itu langsung bisa di rasakan, “katanya.

Di sepanjang tahun 2016 ini, Rosa menambahkan, pihak rumah sakit sudah menangani 32 pasien yang terkena gigitan anjing.

“31 diantaranya adalah warga sintang, dan satunya pasien rujukan dari Kapuas hulu ini. Kemudian, tiga pasien yang tergigit anjing yang ditangani,  telah meninggal dunia,” pungkasnya.

(Ling/dd)

Related Posts