Ngaku Salah, Lima Warga Datangi Sintang Raya, AGRA Bantah Dibilang Provokator

Kubu Raya, thetanjungpuratimes.com-Lima orang perwakilan warga dari desa Mengkalang, kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, mendatangi kantor PT Sintang Raya, pada Senin (8/8).

Kelima warga itu yakni Sumadi, Ishamdan Bakar, Eko Prianto, Hasan Bakar dan Sarbandi Liman. Mereka mengungkapkan kejadian yang sebenarnya dan mengakui kesalahannya, karena termakan hasutan dari dua orang oknum warga setempat, yakni Efendi Liman dan Mohdar, untuk melakukan aksi pencurian buah kelapa sawit di HGU PT Sintang Raya di Desa Olak-olak Kubu pada tanggal 10 Juli lalu.

Kelimanya baru menyadari dan merasa telah ditipu oleh dua orang oknum warga itu yang dianggap telah memberikan penjelasan yang keliru dan simpang siur. Atas pengakuan itu, mereka membuat surat pernyataan yang ditandatangani diatas kertas meterai.

“Memang kami ada ikut tapi hanya untuk meramaikan saja. Itu dikarenakan diajak Efendi dan Mohdar yang mengaku pengurus STKR,” kata Ishamdani saat ditemui.

Diakuinya, sebelum turun ia dan empat rekan lainnya dijelaskan oleh Efendi dan Mohdar bahwa jika “panen massal” ini berhasil maka juga diiikuti desa-desa lainnya.

Dirinya dan warga yang lain merasa menyesal dirinya hanya masyarakat awam yang termakan omongan dari kedua oknum warga desa tersebut.

Pengakuan yang sama juga datang dari Hasan Bakar yang mengaku sebelum dikumpulkan dirinya diberitahukan untuk memanen buah sawit yang letaknya tidak jauh dari Desa Olak-olak.

“Namun sampai dilokasi panen sudah selesai. Langsung kami pulang,” tuturnya.

Hingga saat ini Hasan mengakui belum pernah mendapat surat panggilan dari pihak kepolisian terkait aksi pencurian itu, seperti yang pernah diisukan selama ini.

“Tidak pernah ada. Karena itu kami tidak mau ikut-ikutan juga mengungsi,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan rekannya, Sumadi yang merasa menyesal. Bahkan, ia dan empat rekannya pernah diajak Efendi dan Mohdar ke DPRD Provinsi Kalbar atas undangan Komisi I pada tanggal 23 Juli.

“Efendi dan Mohdar bilang mereka adalah pengurus penting di STKR dan AGRA untuk wilayah Mengkalang. Karena itu diundang. Kami pun juga diajak. Hanya kami tidak tahu apa masalahnya,” tuturnya.

Kepala Desa Mengkalang, Haidy M Sahat menyayangkan warganya terprovokasi atas masalah yang tidak mereka ketahui yang sebenarnya.

“Saya menyambut baik pengakuan mereka ini. Dan saya menghargai dan menghormati warga yang ingin menuntut haknya, tentunya dengan bukti-bukti yang kuat,” ucapnya.

Selaku kepala desa ia berjanji akan membela warganya. Sebab menurut dia, warga hanya lah korban yang tidak tahu menahu dan sekadar ikut-ikutan.

“Belajar pengalaman ini, saya mengundang seluruh tokoh masyarakat hingga tingkat RT agar warga berhati-hati untuk menerima ajakan dari kelompok-kelompok yang tidak jelas legalitasnya,” tegasnya.

Senior Manager Legal, Perizinan dan Humas PT Sintang Raya, Iskandar, menilai, pengakuan warga ini telah membuka lebih jelas tabir aktor dibelakang masalah ini.

“Disebutkan ada dua orang yang dianggap sebagai provokator, yaitu Efendi dan Mohdar. Kedua orang ini lah yang selalu memprovokasi warga sehingga selalu ikut dalam kegiatan STKR dan AGRA pada tanggal 10, 13, dan 23 Juni,” ungkapnya.

Seperti undangan Komisi I DPRD Kalbar tanggal 23 Juni, disebutkan Iskandar sudah jelas warga Mengkalang ini diajak untuk meramaikan. Padahal, dalam undangan Komisi I itu mengagendakan permasalahan konflik lahan di Desa Seruat Dua.

“Artinya bukan di Desa Mengkalang. Tapi kenapa warga Desa Mengkalang yang diajak. Ini kan aneh dan jelas ada yang memprovokasi,” tuturnya.

Ia berjanji akan membantu memfasilitasi warga jika diminta keterangan oleh pihak kepolisian. “Warga kan hanya korban. Jadi hanya sebagai saksi saja di kepolisian. Yang kami harapkan adalah polisi menangkap aktor atau dalangnya jangan sampai berkeliaran diluar,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua AGRA Kalbar, Wahyu Setiawan, serta sejumlah warga Desa Olak-olak yang mengungsi di kantor Komnas HAM Kalbar kembali menggelar aksi demo di Bundaran Untan dan Polda Kalbar.

“Pihaknya tidak akan berhenti menggelar aksi-aksi selama hak warga belum terpenuhi. “Seperti hak diatas lahan 151 hektar yang belum diserahkan. Sampai sekarang tidak jelas bentuknya,” ucapnya saat di temui di sela-sela unjuk rasa yang berlangsung di Bundara Untan, pada Senin (8/8).

Apalagi, hingga saat ini warga merasa belum ada jaminan keamanan dari aparat kepolisian. Ini dibuktikan warga banyak dipanggil untuk diperiksa. Ia juga membantah jika AGRA disebut sebagai provokator.

“Tidak setuju. Itu tidak benar. Tidak ada yang kami provokasikan. Kami organisasi yang membela dan memperjuangkan kepentingan petani. Soal legalitas AGRA, sudah kami sampaikan keberadaan kami ke Kesbangpol Provinsi dan Kubu Raya,” jelasnya.

Terkait ketidakhadiran AGRA dan STKR pada mediasi yang digelar Pemkab Kubu Raya, Wahyu beralasan itu dikarenakan dalam undangan disebutkan bahwa pihaknya dianggap sebagai dalang dalam melakukan berbagai aksi yang meresahkan sehingga menciptakan investasi tidak kondusif.

“Pada prinsipnya kami mau masalah ini diselesaikan. Bukan mencari kambing hitam. Hanya dua intinya yang harus diselesaikan itu, putusan MA dan hak masyarakat yang harus dipenuhi,” pungkasnya.

(Faisal/Muhammad)

Foto : Warga mendatangi kantor PT Sintang Raya/Faisal
Foto : Warga mendatangi kantor PT Sintang Raya/Faisal

Related Posts