Ini Kata Pengamat Ekonomi Untan Tanggapi Pidato Tahunan Presiden

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menanggapi Pidato Presiden terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ke dua tahun 2016 pada angka 5,18 persen,  Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Prof. Eddy Suratman mengatakan angka tersebut memang masuk kategori salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi di Asia.

Tetapi dikatakan Eddy,  angka tersebut bukanlah angka yang istimewa karena zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah tumbuh  6,5 persen menjadi peringkat ke dua tertinggi di Asia, setelah Cina.

“Jadi peryataan presiden tadi pagi itu menurut saya memang  faktanya seperti itu,  dari sisi pertumbuhan ekonomi loh ya,  belum dari sisi pendapatan perkapita, karena pertumbuhan ekonomi itu kan dibagi 250 juta rakyat Indonesia, pendapatan per kapita kita masih tetap di bawah Korea Selatan, tapi pertumbuhan ekonominya untuk triwulan kedua tahun 2016 kita memang lebih tinggi,”  ujar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura tersebut, ketika dihubungi thetanjungpuratimes.com, Selasa (16/8) petang.

Lebih jauh Eddy mengatakan jika melihat dari aspek kemiskinan terjadi sedikit penurunan pada persentase penduduk miskin, berdasarkan laporan statistik di bulan September 2015 angka kemiskinan Indonesia masih 11,3 persen lebih,  sedangkan pada bulan Maret 2016 menurun menjadi 10.8 persen.

“Jadi memang sedikit terjadi penurunan kemiskinan. Pengangguran juga mengalami penurunan. Kesenjangan  ini yang sedikit sulit. Rasio kita masih 0,41 dan sekarang masih tetap pada angka 0.41, jadi memang masih ada masalah soal  kesenjangan pendapatan masyarakat di Indonesia,” paparnya.

Menurutnya pemerintah pusat harus terus meningkatkan upaya agar angka kemiskinan bisa ditekan, sehingga bisa mengurangi kemiskinan di Indonesia.

“Sebetulnya  angka kemiskinan yang 10,8 persen tersebut masih besar sekali, itu lebih dari 28 juta orang itu miskin, kelihatannya angka persentasenya hanya 10,8 persen saja, tapi jumlah orangnya 28 juta lebih, jadi langkah kebijakan ekonomi pemerintah harus terus secara pasti bisa mengurangi orang miskin,” kata dia.

Namun dirinya mengaku optimistis ada harapan untuk menjadikan negara Indonesia terus secara pasti melangkah ke arah yang lebih baik untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial.

“Kelihatanya ada harapan, karena pemerintah di dalam alokasi anggaran baik tahun 2016 ini, maupun tahun 2017 yang akan datang itu mengutamakan luar Pulau Jawa, percepatan pembangunan infrastruktur alokasinya lebih banyak di luar jawa, dengan adanya penyediaan infrastruktur yang lebih banyak di luar jawa berarti kesenjangan mudah-mudahan bisa dikurangi, orang miskin yang sebagian besar adanya di Luar Jawa bisa sejahtera, kesempatan kerja di luar jawa bertambah, sehingga angka penganggguran di luar jawa juga menurun. Dengan demikian kita berharap keberpihakan  pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Luar Pulau Jawa itu bisa mengurangi tiga hal sekaligus, bisa mengurangi kesenjangan, kemiskinan dan pengangguran,” pungkasnya.

(Agustiandi/dd)

Related Posts