Sutarmidji: Warga Negara Ganda, Bukti Lunturnya Cinta Tanah Air

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan menghargai dan menghormati jasa para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Salah satu wujudnya adalah kecintaan terhadap tanah air.

“Semakin bertambah usia Indonesia, maka semakin bertambah rasa kecintaan kita kepada tanah air dan semuanya harus bertekad untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia walau apapun tawaran orang atau negara lain kepada kita,” ujarnya usai upacara pengibaran bendera merah putih dalam memperingati HUT Ke 71 Republik Indonesia, di Lapangan Keboen Sajoek, Rabu (17/8).

Isu dwikewarganegaraan yang saat ini tengah hangat diperbincangkan, dinilainya sebagai mulai lunturnya rasa kecintaan terhadap NKRI.

Ia berpendapat, sehebat dan sepintar apapun mereka yang memiliki dwikewarganegaraan, namun tidak ada tolerir terhadap orang-orang yang kecintaannya sudah tidak 100 persen lagi untuk republik ini.

“Misalnya, mereka yang mempunyai paspor ganda dwikewarganegaraan itu, kecintaannya pada republik ini sudah berkurang. Dan orang yang sudah berkurang kecintaannya pada negara ini, jangan ada tempat untuk dia berbuat apa, untuk mengandalikan hal-hal yang vital di republik ini, meskipun dia hebat dan luar biasa,” tegas Sutarmidji.

Permasalahan hukum kewarganegaraan tidak boleh dieliminasi hanya karena ingin mendapatkan orang-orang pintar. Menurutnya, masih banyak orang-orang yang lebih pintar dan hebat yang cinta terhadap republik ini. Hanya saja mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

“Karena kecintaan kita pada negeri ini, kita harus menghormati dan menghargai apa yang ada pada negeri ini. Itu yang saya harapkan,” imbuhnya.

Sutarmidji mengajak generasi muda di Kota Pontianak untuk bersama-sama membangun kota ini, tingkatkan kemampuan diri dan jaga kondisi keamanan tetap kondusif, mandiri dalam perekonomian dan punya integritas.

“Sehingga kita akan menjadi orang yang bisa memberikan nilai tambah pada republik ini,” katanya.

Dirinya prihatin, masih ada segelintir masyarakat yang memperlakukan lambang-lambang negara seenaknya. Misalnya, setelah masa pengibaran bendera selesai, ada yang hanya menggulung bendera merah putih pada tiangnya kemudian meletakkannya begitu saja. Seharusnya, bendera tersebut dilipat dan disimpan di tempat yang baik.

Meskipun bendera merah putih itu selembar kain dengan dua warna berukuran tertentu, tetapi itu adalah media pemersatu negeri yang sangat luas ini.

Demikian pula lambang negara lainnya seperti Garuda Pancasila dan lain sebagainya, juga harus dihormati dan ditempatkan di tempat yang memang sudah ada aturannya.

“Nah, itu salah satu wujud kecintaan kita kepada tanah air,” pungkasnya.

(Agustiandi/dd)

Related Posts