Petani Resah Terkait Larangan Membuka Ladang dengan Membakar

Polisi Kehutanan Landak Amankan Warga Pembakar Lahan

Pontianak, thetanjungpuratimes.com  – Aktivis Lingkungan WALHI Kalbar, Hendrikus Adam mengatakan masyarakat lokal (petani) menjadi resah ketika ada larangan membakar lahan untuk berladang.

Fakta di lapangan dengan lahirnya larangan membakar melalui Maklumat, pada satu sisi membuat masyarakat lokal yang biasa berladang dengan mengedepankan kearifan lokal resah dan trauma, bahkan banyak di antara mereka yang mulai dihadapkan dengan persoalan hukum,” kata Adam di Pontianak, Kamis (25/8).

Menurutnya, situasi itu tentu tidak adil dan tidak menguntungkan bagi masyarakat peladang.  Mengaitkan petaka asap yang terjadi dengan menuduh masyarakat peladang sebagai biang kabut asap tentu sebuah kesalahan, terlebih bila sampai melarang mereka melakukan pembakaran untuk pembersihan lahannya.

“Selain secara undang-undang  berladang dengan kearifan lokal itu amanah konstitusi, kegiatan berladang juga sangat memperhatikan sikap kehati-hatian dengan menyertakan kearifan lokal yang sejak lama dilakukan,” jelasnya.

Lebih jauh Adam mengatakan, jika melihat kejadiannya selama ini, petaka asap itu terjadi bila lahan yang terbakar itu sangat luas dan yang paling parah bila terjadi di lahan gambut. Sedangkan berladang yang dilakukan masyarakat umumnya menghindari atau tidak di lahan gambut.

“Artinya, petaka asap itu bila dicermati dari sumber penyebabnya bukan terletak pada soal kejadian kebakarannya, tapi di lahan atau lokasi yang seperti apa kebakaran itu terjadi. Kalau terjadi pada hamparan yang sangat luas dan terutama terjadi di gambut jelas inilah yang sesungguhnya menjadi penyebab petaka kabut asap hebat itu,” paparnya

Lanjut dia, untuk memastikan petaka asap tidak terus  terjadi. Negara berkewajiban untuk memastikan rakyatnya tetap merdeka tanpa disertai rasa takut untuk melakukan usahanya meraih hak atas pangan dengan berladang.

“Bila kita cermati pula, sejumlah kebakaran yang dianggap terjadi di luar konsesi perusahaan sesungguhnya memiliki relasi yang kuat akibat rusaknya ekosistem sekitar atas hadirnya perusahaan. Sejumlah kawasan penyangga dan ekosistem gambut yang mestinya menjadi pengatur siklus air menjadi lebih gampang mengering sehingga lebih gampang tersulut api,” pungkasnya.

(Agustiandi/dd)

Related Posts