Dari 26 Kasus Rabies di Sekadau, Satu Diantaranya Meninggal Dunia

Dari 1.068 Korban Rabies, 19 Orangnya Tewas

Sekadau, thetanjungpuratimes.com – Kasus penyebaran rabies di Kabupaten Sekadau semakin mengkhawatirkan. Apalagi, dari 26 kasus gigitan tersebut satu diantaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Distankanak) Kabupaten Sekadau Sabas mengatakan, saat ini memang belum ada status kejadian luar biasa (KLB).

“Tim vaksinasi masih berada di lapangan untuk memberikan vaksinasi pada hewan peliharaan milik masyarakat, khususnya anjing. Apalagi, saat ini Vaksin Anti Rabies (VAR) masih kosong, tidak hanya di kabupaten tapi juga di provinsi,” ungkapnya, Kamis (25/8).

Sabas mengingatkan agar masyarakat tidak mendekati anjing yang memiliki ciri-ciri rabies karena dikhawatirkan bisa menggigit manusia itu sendiri.

“Kami mengimbau masyarakat jika ada anjing liar, sebaiknya dimusnahkan saja. Kami juga minta peran aktif, kepala desa, kepala dusun di tempatnya masing-masing jika memang ada anjing liar segera dimusnahkan,” kata dia.

Sabas mengatakan, jika masyarakat ingin hewan peliharaannya divaksinasi, bisa mengajukan langsung kepada pihaknya. Dengan begitu, tim akan langsung turun ke lokasi untuk melakukan vaksinasi.

“Silahkan ajukan saja kepada kami. Kami juga mengingatkan masyarakat jangan mendekati anjing yang sudah memiliki ciri-ciri rabies,” pintanya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, Wirdan Mahzumi mengatakan, belum ada status KLB zoonosis atau penyakit pada binatang yang dapat ditularkan kepada manusia.

“Kalaupun ada, namanya tanggap darurat penyakit rabies. Biasanya diumumkan kabupaten atas rekomendasi dinas peternakan,” kata dia.

Untuk penanganan terhadap orang yang terkena gigitan anjing kata Wirdan, berdasarkan protap saat digigit, harus dipastikan terlebih dahulu apakah anjing yang menggigit menderita rabies.

“Jika sudah dipastikan baru diberikan vaksin keorang yang digigit. Tapi kalau ikut protap ini khawatir masyarakat menjadi resah walaupun belum tahu apakah anjing rabies atau tidak tetap diberikan vaksin,” jelasnya.

Pemberian vaksin sendiri, kata dia, diberikan empat kali, yaitu 0 hari (dua kali pemberian vaksin sekaligus). Selanjutnya dihari ketujuh diberikan kembali dan kehari ke 21 setelah digigit anjing.

Menanggapi teror rabies di Kabupaten Sekadau, Handi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sekadau mengatakan, kasus rabies tentunya menjadi ancaman yang harus segera ditangani dengan serius. Apalagi, kata dia, dari kasus gigitan anjing satu diantaranya sudah ada yang meninggal dunia.

“Kami akan terus mendorong dinas terkait untuk bisa mendapatkan vaksin anti rabies. Jangan sampai tidak ada sama sekali, seperti saat ini kan stoknya masih kosong,” ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.

Penanganan rabies ini, kata Handi sangat penting dilakukan agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Dikatakan dia, jangan sampai korban semakin berjatuhan hanya karena terkendala ketersediaan VAR yang masih kosong.

“Kami sudah memiliki rencana memanggil dinas terkait untuk duduk bersama terkait dengan rabies ini, khususnya di Kabupaten Sekadau. Soal waktunya kapan nanti akan disesuaikan,” ucapnya.

Tak hanya itu, Handi juga menekankan pentingnya memberikan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat. Sebab, kata dia, masyarakat masih minim akan informasi sehingga masyarakat mengetahui dampak dan bahaya dari rabies itu.

“Jangan sampai tinggal diam, apalagi jika sudah ada korban jiwa,” tuturnya.

(Yahya/dd)

 

Related Posts