Pemkab Kapuas Hulu Terus Benahi Permasalahan Sampah

Putussibau, thetanjungpuratimes.com – Ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu terus berkembang. Salah satu permasalahan yang terus dibenahi Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu di kota Putussibau adalah persampahan.

Kota kecil pada kabupaten ujung timur Kalimantan Barat ini diperkirakan memproduksi sampah 50 kubik setiap harinya. Dari kubikasi sampah tersebut, baru 20 kubik yang mampu ditangani Pemkab setempat, khususnya melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang.

Kabid Penyehatan Lingkungan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kapuas Hulu, Syarif Usmardan mengatakan, volume sampah kota Putussibau cukup besar. Setiap harinya mencapai 50 kubik. Dari 50 kubik itu baru 20 yang tertangani.

“Sisanya yang 30 kubik tidak tertangani karena sampahnya menyebar, ada yang diparit, dibuang ke sungai atau dibakar warga,” ujarnya Kamis (8/9).

Pria yang karib disapa Mardan ini menuturkan, volume sampah terbanyak di Putussibau berasal dari Pasar Pagi. Setiap harinya sampah yang harus diangkut mencapi 10 kubik. Kalau kasat mata lebih banyak sampah un-organik yang diangkut dari tempat pembuangan sampah pasar pagi itu.

Karena volume sampah semakin banyak di pasar pagi, kata Mardan petugas kebersihan harus mengangkut dua kali dalam sehari.  Pengangkutan dilakukan pada jam 8 pagi dan jam 5 sore.

“Bahkan kadang-kadang jam 5 subuh petugas kami suadah mengangkut sampahnya, karena disana ramai kalau sudah jam 8 pagi,” ungkapnya.

Dalam menangani sampah, kata Mardan pihaknya sudah ada sarana penunjang, hanya saja tidak semua dapat beroprasi dengan baik. Mardan mengatakan pihaknya sudah memiliki kontener sampah sebanyak 9 unit, truk amrol ada 2 unit dan satu diantaranya rusak. Kemuda punya juha 3 unit dump truck dan satu diantaranya rusak.

“Selain itu ada juga 2 unit motor tosa, tapi satu diantaranya rusak.  ‘Bekoloader’ kita juga ada 1 unit, nanti akan ditambah lagi,” tuturnya.
Mardan mengungkapkan pihaknya tenggah mengurus Perda tentang persampahan. Pada

Perda yang akan kami kerjakan nantinya bakal mengatur mekanisme pembuangan samapah, mulai dari waktu dan tempat, sekaligus sangsi.

“Ada tipiring dan denda Rp 5 juta bagi pelanggarnya,” tutur Mardan.

(yohanes/dd)

Related Posts