Target Pertumbuhan Ekonomi 2017 Realistis

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Anggota DPR RI Komisi XI Michael Jeno mengatakan target pertumbuhan yang telah disepakati dengan pemerintah sebesar 5, 1 persen tahun 2017 cukup realistis.

“Di tengah situasi ekonomi global sekarang ini target itu cukup realistis,” ujarnya saat dihubungi di Pontianak, Jumat (9/9).

Menurutnya, jika angka terget yang terlalu tinggi malah akan memberatkan keuangan negara.

“Sekali lagi asumsi yang ada dianggap paling realistis dan mampu membawa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017 menjadi kredibel. Sehingga revisi berupa pemotongan anggaran seperti saat ini dapat dihindari,” tutur anggota Fraksi PDI Perjuangan dapil Kalbar itu.

Ia menambahkan target yang telah dihasilkan tersebut sudah mempertimbangkan perkiraan realisasi dari program amnesti pajak.

“Menurut perkiraan Bank Indonesia dana yang masuk ke dalam negeri adalah Rp180 triliun dengan uang tebusan total Rp21 triliun,” katanya.

Jeno memaparkan postur kesepakatan lainnya yakni nilai tukar rupiah disepakati di level yang sama dengan pengajuan pemerintah yakni diasumsikan Rp13.300 per USD.

Kemudian terget inflasi 4 persen, Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5,3 persen, tingkat pengangguran 5,6 persen, tingkat kemiskinan 10,5 persen, gini ratio 0,39 dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,1.

“Untuk asumsi nilai tukar tersebut mempertimbangkan perkiraan suku bunga acuan AS yang dinaikkan kembali serta beberapa kebijakan negara maju seperti dari Eropa dan Jepang. Pertimbangan lainnya adalah kondisi Tiongkok. Sedangkan dari dalam negeri, faktor realisasi amnesti pajak menjadi pertimbangan utama,” kata dia.

Jeno mengatakan dampak rendahnya target bisa tergambar dari lapangan pekerjaan yang akan tercipta tahun depan.

“Saya iluatrasikan dampak penurunan pertumbuhan ekonomi misalnya dalam hal lapangan pekerjaan. Satu persen pertumbuhan ekonomi, kira-kira tersedia 600.000 lapangan kerja baru. Jadi kalau dari usulan pemerintah terkoreksi dari 5,3 menjadi 5,1 akan ada pengurangan potensi lapangan kerja baru sebesar 120 ribu,” ujar Jeno.

(Ant/dd)

Related Posts