Jemaah Salat Idul Adha Padati Lapangan Stadion Nanga Pinoh

Melawi, thetanjungpuratimes.com – Salat Idul Adha 1347 H tahun 2016 di Melawi dilaksanakan di masjid-masjid.

Tahun ini pelaksanaan salat Idul Adha 1437 H yang jatuh pada Senin (12/9) juga dilaksanakan di lapangan stadion Nanga Pinoh di Desa Kenual. Selain ribuan Umat Muslim, Wakil Bupati Melawi, Dadi Sunarya, Anggota DPR RI, Sukiman, Istri Bupati Melawi, Nurbetty Eka Mulyastri serta Istri Wakil Bupati Melawi, Raisa, juga melaksanakan salat Idul Adha.

Pada kesempatan itu, Dadi Sunarya bersama Sukiman memberikan ucapan selamat hari Raya Idul Adha kepada seluruh umat muslim yang ada di Melawi dan seluruh jamaah yang melaksanakan salat Idhul Adha di lapangan itu.

Setelah itu, Ketua PHBI Melawi, Noor Haz menyampaikan jumlah hewan kurban yang berhasil di data di Kabupaten Melawi, khususnya di Nanga Pinoh 44 ekor dan 2 ekor kambing. Kemudian Ia juga menyampaikan petugas salat Idul Adha  di lapangan itu. Bertindak sebagai imam dan khatib Ustad Abu Dzakaria Ardes.

Usai salat dilaksanakan, Ustadd Abu Dzakaria Ardes menyampaikan salat Idul Adha sudah barang tentu dengan hari raya kurban. Yang mana membuat kita harus mengingat kembali perjuangan tentang perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menghadapi cobaan selama dia menyebarkan agama Allah. Perjalanan Nabi Ibrahim banyak terkandung pesan, bukan hanya pada zamannya namun sampai kini.

Ustazd Abu Dzakaria mengatakan, idul Adha bukan untuk sekadar pesta pora. Namun sebagai ibadah sekaligus untuk introspeksi diri. Dan mengenang kembali kisah nabi ibrahim. Sebab dalam perjalanan Nabi Ibrahim banyak mengandung pesan. Kehidupan Nabi Ibrahim syarat dengan pelajaran dan teladan di dalamnya.

“Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa kita petik,” katanya saat membacakan khotbah.

Kata Ustazd Abu, manusia diharapkan untuk selalu berusaha berbaik sangka kepada Allah. Kata dia, pada suatu hari Nabi Ibrahim diminta istri dan anaknya Ismail yang masih bayi dalam perjalanan panjang. Di suatu lembah yang tandus dan tidak ada kehidupan. Dalam perjalanan itu istrinya hajar juga keheranan. Namun karena ini sudah menjadi perintah Allah maka Hajar istrinya pasrah dan tetap berbaik sangka kepada Allah.

“Jika selama ini banyak orang yang kehidupannya tidak bahagia bukan berarti nikmat dari Allah kurang. Namun karena rasa syukur dari manusia kepada Allah yang sangat kurang. Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah dalam kondisi apapun. Sebab Allah tergantung prasangka hambanya. Seorang hamba yang bijak adalah yang berbaik sangka kepada Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepadaNya,” katanya.

(edi/dd)

Related Posts