Pemanfaatan Potensi Tambang di Kapuas Hulu Terbentur Konservasi

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Kapuas Hulu memiliki potensi alam yang melimpah khususnya sektor tambang. Berbagai jenis bahan tambang, seperti batu-bara, antimoni, emas hingga garnit ada di Bumi Uncak Kapuas. Akan tetapi potensi tambang itu belum dapat tergarap secara maksimal, karena terbetur dengan status kabupaten konservasi.

Anggota DPRD Kapuas Hulu, Stefanus mengatakan, dari perspektif keuntungan dan pendapatan daerah memang sangat disangkan potensi tambang di Kapuas Hulu belum tergarap secara maksimal. Namun disisi lain, katanya, pemerintah dan DPRD setempat pun tidak dapat berbuat banyak dalam hal kebijakan.

“Selama ini memang terlihat potensi tambang kita belum maksimal tergali untuk daerah. Tapi itu karena terbentur konsevasi, aturan pertambangan yang sudah diambil alih provinsi dan juga aturan lain tentang kehutanan,” kata Stefanus, Selasa (20/9).

Meski dihimpit aturan, Stefanus menilai masih ada peluang pengembangan sektor tambang, sebab pasti ada potensi tambang pada areal di luar kawasan hutan. Potensi pertambangan itu perlu dimaksimalkan dengan prosedur perizinan dan komitmen yang kuat, sehingga kehadiran investor yang menggelolanya dapat memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta retribusi dengan masyarakat setempat.

“Setidaknya investor tersebut memberdayakan orang lokal untuk pekerjaannya. Kalau ini ditanggapi baik, saya rasa itu akan meningkat ekonomi daerah,” kata Stefanus.

Di sisi lain, lanjutnya, industri pertambangan tidak bisa dipisahkan dari resiko dampak lingkungan. Untuk Investor yang bersangkutan juga mesti komitmen terhadap kelestarian lingkungan, pengelolaan limbah perusahaan terkait mesti baik.

“Ini memang kaitannya erat dengan dampak lingkungan. Tapi ini kalau dipersiapkan dengan baik, saya yakin tidak ada masalah, contonya daerah Kalimantan Tengah dan provinsi lain yang ada pertambangan, mereka bisa kelolannya jadi kita tidak perlu terlalu takut,” tegas mantan aktifi lingkungan Kapuas Hulu ini.

Resiko lainnya, kata Stefanus adalah persaingan tenaga kerja dan juga sasaran pasar hasil tambang. Tidak menutup kemungkinan investor tambang memasukan tenaga kerja asing. Kemudian dari pemasarang peluangnya juga masih kecil, jarak ke Pontianak jauh, kalau ke Malaysia tentu perlu dukungan perizinan antar dua negara.

“SDM kita untuk pertambangan mungkin sangat mini, maka tidak menutup kemungkinan orang luar yang banyak menggarap nanti. Terkait pemasaran ini juga hampir tidak ada, paling ke Malaysia tapi itu kembali lagi dengan kesepakatan antar pemerintah,” tutupnya.

(yohanes/dd)

Related Posts