Banyak Faktor Mempengaruhi Perilaku Tindakan Kekerasan Terhadap Anak

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura (Untan), Yulianti, mengatakan, banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menyimpang pada seseorang, seperti tindakan kekerasan, yaitu moral, lingkungan, ekonomi dan media massa. Moral yang kurang baik dapat membuat seseorang berperilaku seenaknya. Selain itu, perkembangan media massa yang begitu pesat juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

“Setiap manusia itu punya sisi jahat, berkembang atau tidaknya itu tergantung pada pribadi masing-masing,” ujar Yulianti, saat ditemui di Fisipol Untan, pada Senin (10/10).

Yulianti juga mengatakan, ketidakpedulian sesama saat ini juga mempengaruhi makin maraknya kekerasan terhadap anak, tidak adanya kepedulian dalam kehidupan sosial di masyarakat.

“Masyarakat sekarang tidak peduli, misalnya kita liat tetangga teriak-teriak, mukuli anaknya, kita tidak ada rasa pedulinya, mau nanya ada apa ini ? Tidak ada,” ungkapnya.

Kekerasan juga banyak terjadi dalam lingkungan keluarga, dalam istilah lain kekerasan internal, yang tidak kelihatan dari luar, sehingga kekerasan dalam lingkungan keluarga itu sering terselubung, sehingga kekerasan dalam keluarga inilah yang banyak menimbulkan korban kekerasan terhadap anak.

“Salah satu cara untuk menghindari kekerasan ini adalah pendidikan dalam keluarga, ajaran agama yang kuat, serta moral yang baik. Keluarga harus benar-benar siap untuk memulai kehidupan berkeluarga,” ucapnya.

Yulianti menyarankan, sebelum berumahtangga harusnya sudah mempersiapkan diri untuk segala sesuatu yang mungkin akan terjadi. Bagaimana mengatur ekonomi, bagaimana mengatur pola asuh anak, sehingga tidak menimbulkan stres dan tekanan yang nantinya beresiko akan menimbulkan kekerasan terhadap keluarga atau anak.

“Faktor awal yang membuat seseorang dapat melakukan perlakuan menyimpang, terutama kekerasan dalam keluarga, adalah faktor emosional, seperti tekanan hidup, stres dan faktor himpitan ekonomi,” paparnya.

(Matilda Lesi/Muhammad)

Related Posts