Cadangan Devisa Indonesia Menguat 9,2 Persen

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Tren penguatan rupiah yang sempat menembus level Rp 12.000-an pada akhir September lalu berimplikasi positif terhadap cadangan devisa Indonesia yang diprediksi dapat menebus level tertinggi dalam empat tahun. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Manajemen Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi.

Dengan tren penguatan rupiah ini, secara rata-rata, cadangan devisa Indonesia telah meningkat 9,2 persen mendekati USD 116 miiliar pada September, level tertinggi sejak Bank Sentral Amerika memberikan sinyal penghentian kebijakan quantitative easing atau pelonggaran moneter pada 2013 lalu. Sejak penghentian kebijakan tersebut, rupiah terpuruk sebesar 21 persen.

Kebijakan quantitave easing ini ditandai dengan pembelian obligasi pemerintah untuk mengguyur pasokan mata uang di pasar.

Menurut pantauan, Rupiah sempat berada di di level Rp 12.955 pada 27 September lalu, tertinggi sepanjang tahun ini. Sedangkan, cadangan devisa Indonesia pada akhir September berada di posisi USD 115, 7 miliar, lebih tinggi daripada level Agustus yakni USD 113 miliar.

“Sekarang kekhawatiran dapat diredakan, karena cadangan kami dapat dikatakan cukup,” kata Doddy.

Mata uang rupiah, menjadi kurs dengan penguatan paling tinggi dibandingkan dengan mata uang di Asia Tenggara lainnya, yakni 5,7 persen. Penguatan rupiah ini disinyalir dari membanjirnya investor asing.

Diperkirakan sejumlah USD 12 miliar dana investasi asing masuk ke dalam negeri dalam bentuk obligasi dan pasar modal. Ditambah lagi dengan adanya program amnesti pajak yang berjalan hingga 31 Maret tahun depan, yang telah mengumpulkan Rp 93,7 triliun dana tebusan dan menarik repatriasi sebesar Rp 143 triliun hingga hari ini.

“Rupiah saat ini bergerak sesuai jalur dengan keadaan fundamental dan makroekonomi yang membaik, tetapi tidak 100 persen aman,” kata Doddy.

Membaiknya cadangan devisa Indonesia, menurut Doddy, mendorong berkuranganya tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit yang dibawah 2 persen dari produk domestik bruto pada akhir tahun ini. Lebih baik dari proyeksi sebelumya yakni 2,4 persen.

Namun, penguatan rupiah harus tetap terkendali, pasalnya penguatan kurs yang terlalu kuat akan mempengaruhi persaingan barang ekspor Indonesia diluar negeri.
Bank Indonesia , sebelumnya, juga telah berkomitmen bahwa akan tetap mencegah rupiah untuk bergerak terlalu kuat.

Sejauh ini, Bank Indonesia telah memotong suku bunga sebanyak lima kali atau 100 basis poin dalam delapan bulan untuk mencegah pergerakkan rupiah yang terlalu kuat dan untuk mendukung pemangkasan anggaran pemerintah. Suku bunga acuan saat ini adalah 5 persen.

Saat ini, Bank Indonesia mengadopsi 7 day-repo rate sebagai patokan yang telah ditetapkan sejak Agustus lalu, untuk memudahkan bank sentral mempengaruhi pasar keuangan.

Doddy lebih lanjut menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya kredit bermasalah atau NPL yang dihadapi perbankan.

“Bukan transmisi suku bunga yang menjadi masalah sekarang, tapi resiko yang semakin tinggi. Perbankan saat ini berusaha untuk mengurangi kredit bermasalah, maka dari itu, mereka tidak bisa segera menurunkan suku bunga pinjaman,” kata Doddy.

 

(Rimanews/Faisal)

Related Posts