Dosen Muda FMIPA Untan Bergelar Doktor Ini Mampu “Sulap” Biji Kesumba Jadi Sel Surya

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Dosen Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura (Untan) Dr. Winda Rahmalia berhasil mengubah tumbuhan liar Kesumba yang memiliki nama latin  Bixa Orellana menjadi bahan untuk membuat sel pembangkit listrik tenaga surya.

Di tangan dosen yang mendapatkan gelar doktornya di Prancis tahun 2016 ini, biji Kesumba yang merupakan tanaman liar bisa menjadi tanaman yang dapat memberikan manfaat bagi kebutuhan energi saat ini.

Ditemui thetanjungpuratimes, Selasa (18/10), Winda menceritakan awal mula ketertarikannya untuk meneliti lebih jauh tentang buah Kesumba. Hal itu bermula saat dirinya mendapatkan beasiswa di Universitas Kristen Satiawacana Salatiga pada tahun 2007 yang meneliti tentang pigmen.

Kata dia, penelitian pertamanya mengenai Pigmen adalah terhadap Pigmen kelapa sawit sebagai sel surya, yang kebetulan banyak tumbuh di Kalimantan. Namun, sayangnya penelitian itu belum berhasil.

Selanjutnya dirinya meneliti Pigmen pewarna yang ada pada biji Kesumba, kandungan Pigmen tersebut bernama Bixin. Kandungan Bixin pada biji Kesumba, kata dia, mampu menyerap sinar Ultraviolet yang ada pada sinar matahari.

“Saya lihat tumbuhan ini banyak tumbuh di kampus dan tidak digunakan orang, mungkin karena tumbuhan liar jadi orang tidak tahu digunakan untuk apa,” tuturnya.

Pada mulanya penelitian buah Kesumba bukan sebagai sel surya melainkan sinar UV-protector atau pelindung sinar Ultraviolet untuk kulit. Setelah dirinya mendapatkan hasil riset bahwa Kesumba mampu menjadi pelindung sinar Ultraviolet dari situlah dirinya berpikir untuk mengaplikasikan biji Kesumba ini ke hal lain.

“Pada prinsipnya kan jika bisa melindungi kulit dari sinar Ultraviolet, berartikan dia (Kesumba) yang menyerap sinar ultraviolet, dari situlah muncul ide untuk membuat sel surya,” jelasnya.

Dijelaskannya jika proses untuk membuat sel surya dari biji Kesumba ini yaitu biji Kesumba haruslah dimurnikan hingga mencapai 100 persen.

“Dari hasil pemurnian tersebutlah yang digunakan sebagai bahan penting dalam sel surya. Selain biji Kesumba ada bahan lain seperti tanah lempung dan limbah kelapa sawit yang digunakan,” kata dia.

Hasil penelitian ini, ujar Winda akan dipatenkan secara Internasional dan sudah didaftarkan di negara Prancis. Pematenan itu adalah satu kesatuan dari sistem sel surya yang dibuat mulai dari bahan hingga proses pembuatannya.

“Sel surya buatan saya yang berukuran 1 cm x 0.5 cm, mampu menghidupkan lampu  5 watt. Dan membutuhkan 1000 sel surya yang bisa bertahan selama 10 hari,” kata dia menambahkan.

(Mailda Lesi/dd)

Related Posts