KPA Mempawah Minta Masyarakat Tak Jauhi ODHA

Mempawah, thetanjungpuratimes.com – Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Mempawah, Hj Westi Anas mengatakan orang yang terkena HIV tidak boleh dijauhi melainkan dirangkul, dan diarahkan untuk memeriksakan diri untuk berobat.

“Selama ini memang untuk ODHA ini menjadi stigma negatif di masyarakat, maka saat inilah ODHA ini bagaimana untuk dirangkul di masyarakat dan tidak seharusnya dikucilkan,” katanya, Selasa (18/10).

Menurutnya, penderita HIV/AIDS dapat mengkonsumsi obat anti retroviral dan inveksi oportunistik.

“Jadi kalau kita mengkonsumsi obat HIV, dia akan secara terus menerus seumur hidup, kalau tidak dimakan obat maka akan berkembang akan menyebabkan AIDS, daya tahan tubuh menurun dan lemah, maka inilah yang akan menyebabkan penyakit lainnya masuk sehingga timbullah AIDS,” jelasnya.

Malah, katanya ketika sudah ada komplikasi penyakit lainnya bahkan bisa menyebabkan kematian.

Sehingga, tambahnya menyebabkan kematian bukan HIV, melainkan penyakit lainnya yang menumpang dibadan penderita.

“Orang yang terserang HIV ini tidak serta merta menyebabkan kematian spontan melainkan menyebabkan adanya penyakit lainnya setelah daya tahan tubuh menurun, jelasnya

Gjalanya itulah, tambahnya adanya penyakit lainnya misalnya badan lemah, TBC, sesak nafas, dan lainnya setelah diatas 5 tahun.

Ia mengatakan berdasarkan hasil pertemuan KPA se-Indonesia bahwa dana gGobal Fund berakhir 31 Desember 2015, maka dalam kelanjutannya kabupaten/kota dan Provinsi yang diberikan bantuan bukan global funding tetapi New Funding Model (NFM).

“Namun mempunyai syarat bahwa KPA Kabupaten dan Kota harus sudah memiliki peraturan daerah, sementara untuk membutuhkan waktu yang lama, minimal KPA harus memiliki peraturan bupati. Maka sudah disahkan Perbup Mempawah Mei 2016 yang sekarang¬†disosialisasikan,” paparnya.

Ditambahkan oleh Kabid P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah, Jajat Hidayat mengatakan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV /AIDS ini pemeriksaan sadar bagi petugas berisiko, dan petugas kesehatan, peningkatan promosi HIV dan Infeksi menular seksual (IMS) , pemerataan sistem pembiayaan program, penguatan program, pengembangan sumber daya manusia (SDM), evaluasi strategis.

Ia mengatakan sejak 2005-Agustus 2016 terdata sebanyak 314 orang orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Jika dibedakan dalam kelompok resiko, mayoritas di derita oleh pelanggan penjaja seks (PPS) berjumlah 144, kemudian wanita penjaja seks (WPS) berjumlah 83, kemudian pas resiko tinggi (pas resti) sebanyak 43 orang,” terangnya

Sementara kondisi ODHA yang saat ini menjadi perhatian hingga September 2016 terdata diantaranya 1 ODHA hamil, 8 orang ODHA dengan usia 3-9 tahun, 2 orang bayi dari ibu ODHA usia 5 bulan dan 1 orang bayi dari ibu ODHA usia 8 bulan.

Saat ini dikatakan untuk layanan VCT di Mempawah ada di RSUD dr Rubini Mempawah, sementara layanan IMS ada di 5 puskesmas Jungkat, Segedong, Sungai Pinyuh, Anjungan dan Mempawah.

“Kedepannya kalau bisa meningkat lagi, supaya paling tidak setiap kecamatan, paling tidak ada puskesmas yang ada IMS-nya, supaya tidak jauh jangkauanhnya” kelasnya.

Sementara untuk layanan VCT/ KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela) di Kabupaten Mempawah dapat dilakukan di Puskesmas Jungkat, Sungai Pinyuh, Anjongan dan RSUD dr Rubini.

Untuk sementara, sebutnya dari jumlah kunjungan orang dengan HIV per tahun sejak tahun 2005-2015 terdata di baik di klinik VCT Sahabat maupun puskesmas dan rumah sakit terdata sebanyak 258 orang.

(Hamzah/Faisal)

Related Posts